Pukat Serial Anak Mamak

Weekend kali ini para dosen disibukan dengan tumpukan berkas yang harus dikoreksi. Sebagai bahan refreshing saya sempatkan menamatkan buku Pukat Serial Anak Mamak. Buku ini buku ketiga Tere Liye dalam seri Anak Mamak. Ada 4 buku dalam serial ini, masing-masing bercerita tentang keempat anak mamak. Dimulai dari si bungsu Amelia, kemudian Burlian yang paling spesial, dan dilanjutkan tentang Pukat yang paling pintar.

Pukat

Buku ini bercerita tentang Pukat, anak kedua keluarga Syahdan. Keluarga yang sederhana ini tinggal di sebuah kampung kecil di tengah hutan di Sumatera. Walaupun keluarga ini sangat sederhana, namun ada banyak pelajaran dan hikmah yang bisa dipelajari dari cara Syahdan dan mamak Nur mendidik anaknya.

Ada banyak kisah menarik pada buku ini. Kisah pukat dimulai dengan cerita perjalanan Pukat dan Burlian yang diajak Bapak naik kereta api. Namun di tengah perjalanan ada kawanan perampok yang menjarah kereta tersebut. Kemudian ada kisah Raju, sahabat pukat. Ada juga kisah Pukat yang mencoba membantu Ibu Ahmad berjualan makanan. Selanjutnya cerita tentang teka-teki wak Yati. Wak Yati adalah saudara perempuan dari Bapak.

Yang paling membuat saya terharu adalah kisah tentang seberapa besar cinta mamak. Kisah yang sangat bagus sekali. Tere Liye melalui kisah ini mencoba mengingatkan kita tentang seberapa besar kasih sayang seorang ibu pada anaknya. Saya coba kutip pesan Bapak kepada Pukat:

“Jangan pernah membenci Mamak kau, jangan sekali-kali… karena jika kau tahi sedikit saja apa yang telah ia lakukan demi kalian, maka yang kau tahu itu sejatinya bahkan belum sepersepuluh dari pengorbanan, rasa cinta, serta rasa sayangnya kepada kalian”

Kemudian ada pula cerita renovasi mesjid. Pada saat renovasi ini ada kejadian tak terduga yang membuka kisah tentang Meneer Van Houten, seorang tentara Belanda. Ada juga cerita Pukat dan Burlian yang disuruh mamak berdagang di pasar. Dan ada juga cerita menarik tentang Petani adalah kehidupan. Disini diceritakan Pukat diminta untuk membantu membuka hutan untuk ditanami padi.

Buku ini ditutup dengan kisah sedih meninggalnya Wak Yati. Namun begitu pada bagian akhir buku ada sebuah kejutan yang tidak terduga. Buku yang sangat bagus menurut saya. Tere Liye berhasil merangkai berbagai kisah yang sederhana menjadi penuh makna. Dari kisah-kisah tersebut banyak hikmah yang bisa kita pelajari. Namun itu semua disampaikan dengan banyak kisah lucu, yang bisa membuat kita senyum-senyum sendiri membacanya.

Semoga Bermanfaat!

 

Silahkan tuliskan tanggapan, kritik maupun saran