Anak Semua Bangsa

Weekend biasanya jadi waktu bagi saya untuk melanjutkan hobi membaca buku. Kali ini buku yang sedang saya baca adalah novel Anak Semua Bangsa karya Pramoedya Ananta Toer. Buku ini merupakan buku kedua dari tetralogi buru, 4 buah novel yang ditulis Pram sewaktu berada di tahanan di pulau buru. Buku ini lanjutan dari buku pertama Bumi Manusia. Masih berkisah tentang Minke. Pada akhir buku pertama Bumi Manusia, Minke telah berhasil tamat dari HBS, kemudian menikah dengan Annelies. Hanya saja karena keputusan pengadilan, Annelies harus dibawa  ke Belanda.

Nyai Ontosoroh mengutus Panji Darman untuk mengikuti Annelies di kapal. Sayangnya kondisi Annelies yang sakit terus melemah sepanjang perjalanan. Sampai di Belanda pun Annelies meninggal. Sementara itu Minke diminta untuk menuliskan hasil wawancara dengan Khouw Ah Soe, seorang angkatan muda Cina. Melalui Khow, Minke berkenalan  dengan cerita kebangkitan bangsa-bangsa Asia diantaranya ada Jepang yang berani menantang Rusia, dan Filipina yang berjuang melawan Spanyol.

Kemudian Minke ditantang oleh Jean Marais dan Kommer untuk menulis dalam bahasa Melayu. Minke yang selama ini menulis dalam bahasa Belanda disebut-sebut tidak mengenal bangsanya sendiri. Karena tantangan ini Minke kemudian pergi bersama Nyai ke Tulangan. Disana Minke berkenalan dengan Trunodongso, seorang petani kecil yang tanahnya dirampas oleh perusahaan tebu. Minke juga bertemu dengan Surati, Anak Sastro Kassier yang dijual kepada tuan besar Administrator pabrik Gula.

Di buku ini Pram banyak bercerita tentang nasib tragis bangsa Indonesia pada jaman penjajahan Belanda, tepatnya pada awal tahun 1900-an. Melalui sosok Trunodongso, Pram menceritakan nasib petani yang tanahnya dirampas secara semena-mena. Kemudian kita juga diceritakan tentang nasib perempuan pada jaman tersebut, yang tidak memiliki hak dan dapat dijual dengan mudahnya. Minke yang sebelumnya mengagung-agungkan Eropa dengan berbagai modernitas dan Revolusi Prancis yang mengedepankan persamaan hal, pada buku ini mulai mengenal kebusukan bangsa Eropa. Minke juga mulai mengenal kegetiran nasib bangsanya yang ditindas di negerinya sendiri, tanpa bisa melawan. Di Akhir buku, terjadi adegan yang sangat dramatis dimana Minke, Nyai, Jean dan Kommer menghadapi Ir Mellema. Buku ini dilanjutkan dengan buku ketiga Jejak Langkah.

Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari – Nyai Ontosoroh

Silahkan tuliskan tanggapan, kritik maupun saran

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.