Halal Bihalal kampus

Hari Jumat lalu, kampus kami mengadakan halal bihalal. Untuk pertama kalinya diadakan secara online. Pada acara ini sebagai pembicara adalah Ustad Khalid Basalamah. Ada banyak hal menarik yang beliau sampaikan pada acara ini, diantaranya:

Ramadhan adalah lembaga training terbesar yang disiapkan Allah SWT untuk kita. Ada 4 ibadah yang diajarkan selama Ramadhan.

1. Puasa 

Berpuasa 1 bulan itu, beliau analogikan tubuh kita seperti mobil yang baru di service.  Biasanya setelah di service, mobil itu jadi lebih mantap tarikannya dan lebih nyaman rasanya. Begitu juga tubuh kita setelah ramadhan, terasa lebih sehat, jadi jangan dirusak lagi dengan makan makanan yang berlebihan.

2. Taraweh

Selama bulan ramadhan kita terbiasa untuk taraweh. Kebiasaan ini harus kita lanjutkan dengan melaksanakan qiyamul lail atau tahajud. Tahajud sebaiknya dilaksanakan pada 1/3 malam.

3. Sedekah

Selama Ramadhan kita dianjurkan untuk memperbanyak sedekah. Contohnya dengan memberikan makanan. “Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.” (HR.Tirmdzi)

Memberi makan orang berbuka ini sangat dianjurkan, walaupun kita hanya memiliki satu butir kurma. Allah akan memberikan pahala walaupun hanya susu campur air, atau sebutir kurma, atau seteguk air

4.  Membaca Alquran

Selama Ramadhan para sahabat berlomba-lomba mengkhatamkan AlQuran. Ulama besar Imam Syafii bahkan selama Ramadhan khatam AlQuran 2x sehari. Selain itu kita diminta juga untuk memahami maknanya. 

Selain itu juga biasakan juga dzikir, contohnya dzikir pagi petang. Perbanyak berdoa, serta jangan lupa bayar Zakat.

Tujuan dari semua ibadah ramadhan adalah menjadi manusia bertaqwa. Ketaqwaan akan tercermin akhlaqnya. Khalifah Umar ketika akan mengangkat gubernur, beliau melihat dulu faktor ketaqwaan dari orang yang dia pilih. Ketaqwaan ini yang banyak membuat perubahan pada para sahabat rasul. Contohnya sahabat Bilal, sebelum masuk islam beliau adalah budak. Namun setelah masuk islam, beliau diangkat menjadi orang yang mulia. 

Selain perubahan akhlaq, salah satu hal yang dilakukan rasul adalah melakukan perubahan pada sisi muamalah.

Dalam menghadapi perbedaan, kita harus bersikap bijak. Bila ada orang yang benar, maka harus kita dukung. Tapi bila ada orang yang salah, jangan kita cela. Jadikan sebagai kesempatan untuk kita berpahala. Ada kisah dari perang Khaibar, dimana Ali ra diminta rasulullah untuk menaklukan benteng yahudi. Dari Sahl bin Sa’d radhiyallahu’anhu, suatu ketika dalam peperangan Khaibar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh, aku akan memberikan bendera ini kepada seorang pria yang melalui kedua tangannya Allah akan memberikan kemenangan, dia mencintai Allah dan rasul-Nya, dan Allah dan rasul-Nya pun mencintainya.” Sahl berkata: Maka di malam harinya orang-orang pun membicarakan siapakah kira-kira di antara mereka yang akan diberikan bendera itu. Sahl berkata: Ketika pagi harinya, orang-orang hadir dalam majelis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Masing-masing dari mereka sangat mengharapkan untuk menjadi orang yang diberikan bendera itu. Kemudian, Nabi bersabda, “Dimanakah Ali bin Abi Thalib?”. Mereka menjawab, “Wahai Rasulullah, dia sedang menderita sakit di kedua matanya.” Sahl berkata: Mereka pun diperintahkan untuk menjemputnya. Kemudian, dia pun didatangkan lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meludahi kedua matanya dan mendoakan kesembuhan baginya maka sembuhlah ia. Sampai-sampai seolah-olah tidak menderita sakit sama sekali sebelumnya. Maka beliau pun memberikan bendera itu kepadanya. Ali berkata, “Wahai Rasulullah, apakah saya harus memerangi mereka hingga mereka menjadi seperti kita?”. Beliau menjawab, “Berjalanlah dengan tenang, sampai kamu tiba di sekitar wilayah mereka. Lalu serulah mereka untuk masuk Islam dan kabarkan kepada mereka hak Allah yang wajib mereka tunaikan. Demi Allah, apabila Allah menunjuki seorang saja melalui dakwahmu itu lebih baik bagimu daripada kamu memiliki onta-onta merah.” (HR. Bukhari dan Muslim, lihat Syarh Muslim [8/31])

Ustad berpesan, dakwahi orang yang belum paham. Jangan mereka dicela atas ketidakpahamannya. Sementara untuk orang yang sudah paham cukup diingatkan. Ustad menyampaikan juga, kalau ada mahasiswa yang bodoh, jangan dimarahi. Imam Syafii pernah mempunyai seorang murid yang lambat. Setelah Imam Syafii mengajar, beliau mendatangi murid tersebut. Beliau bertanya apakah kamu sudah paham? Muridnya menjawab, belum imam. Imam Syafii berkata, baik kalau begitu saya akan jelaskan kembali kepadamu. Setelah itu beliau bertanya lagi, apakah kamu sudah paham? Belum Imam, Imam Syafii kemudian menjelaskan lagi. Murid tersebut kemudian menyampaikan, ya imam, memang saya ini lamban. Imam menyampaikan, saya akan berusaha menjelaskan, sampai engkau paham. Inilah contoh cara Imam Syafii dalam mendidik.

Rasulullah Saw bersabda, “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta , maka Allah tidak butuh dengan lapar dan hausnya,” (HR. Bukhari)

Puasa akan menjadi perisai yang menghalangi dari siksa api nerakaneraka sejauh tujuh puluh musim” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Jangan juga berbicara yang menimbulkan syahwat. Jangan lakukan kejahatan (la yasfuq) baik kejahatan kecil sampai kejahatan besar. Jangan belaku bodoh (jahil, la yajhal) Kalau ada yang mengajak bertengkar, katakan saya sedang berpuasa.

Ramadhan juga mengajarkan kita untuk berbagi. Yang wajib adalah zakat. Kemudian ada shadaqah. Menurut ustadz, shadaqoh adalah pangkal kaya. Jadi bukan menabung yang pangkal kaya. Jangan kita bakhil. ‘Wahai anak Adam!’ berinfaklah, niscaya Aku berinfak (memberik rizki) kepadamu” (HR.Muslim)

Mari kita mencontoh beberapa kisah sahabat, yang dermawan. Diantaranya Saad bin Ubadah. Beliau terbiasa membagi-bagikan makanan terhadap kaum muslim. Dia mengajarkan ke anaknya, ” ini gudang ayahmu, ayah mau kamu setiap hari sedeqah. Beri makan kepada orang miskin,

Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah karenanya menyatakan, “Puasa, salat dan sedekah mengantarkan orang yang mengamalkannya pada Allah. Sebagian salaf sampai berkata, ‘Salat mengantarkan seseorang pada separuh jalan. Puasa mengantarkannya pada pintu raja. Sedekah nantinya akan mengambilnya dan mengantarnya pada raja.’“ (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 298).

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia…” (QS. Al-Baqarah : 264)

Kemudian ustadz bercerita tentang kisah sedaqoh Fudhail bin Iyadh. Beliau bersedeqah 1 dirham, namun memperoleh balasan yang berlipat. Beliau adalah suadagar yang kaya. Pernah dalam sehari beliau mendapat keuntungan 1 peti emas. Mendapat keuntungan yang banyak tersebut, beliau malah bingung. Kemudian beliau dan istrinya sibuk membagi2 bagikan keuntungan tersebut dalam bentuk shedeqah. Kenapa beliau membagi-bagikan hartanya, menurut beliau agar hisabnya di hari akhir nanti menjadi ringan. Konon ceritanya sampai shubuh beliau sibuk membagi-bagikan shodaqoh. Setelah habis ternyata besoknya datang lagi keuntungannya berupa 2 peti. Dan beliau sibuk lagi membagi-bagikan shodaqoh. Begitulah, perdagangannya selalu berhasil, bahkan ada kisah yang menyatakan kalau abdurraham menggengam sebuah tanah, kemudian tanah itu dia jual, niscaya dia akan untung. 

Pada kisah lainnya. Sahabat Abdurrahman bin Auf mencari orang yang gagal panen. Bertemulah dia dengan seorang petani kurma, yang gagal panen. Kurmanya itu dia beli semuanya, sehingga petani tersebut senang. Kurma tersebut beliau simpan di gudang. Kemudian datang seorang utusan dari yaman. Ternyata di Yaman sedang terjadi wabah, dimana obatnya adalah kurma kering yang gagal panen tersebut. Sehingga kurma kering yang disimpan di gudang tadi dibeli oleh orang yaman.

Sebagai pendidik, kita harus tulus. Tirulah Rasulullah. Rasulullah selalu menyampaikan dakwah dengan tulus. Ustadz menyampaikan kewajiban amar makruf hanya bila kita melihat kejahatan yang nampak di depan mata. Contohnya terhadap pasangan, jangan kita utak-atik apa yang tidak kita ketahui tentang pasangan kita. Jangan korek-korek masa lalunya.

Ada pertanyaan dari peserta tentang Hizbul wathan minal iman. Menurut ustadz, kalimat tersebut bukan hadis. Namun kalimat tersebut baik. Karena agama memerintahkan kita  untuk menjaga nama baik kita, harta kita, serta tempat kita tinggal. Kita harus senantiasa menjaga keamanan di tempat kita tinggal. Barangsiapa di antara kamu masuk pada waktu pagi dalam keadaan [1] sehat badannya,[2] aman pada keluarganya, dia [3]memiliki makanan pokoknya pada hari itu, maka seolah-olah seluruh dunia dikumpulkan untuknya.” (HR. Ibnu Majah, no: 4141,

Menjawab pertanyaan tentang bagaimana menghadapi siswa yang kurang beradab. Ustadz menjawab coba dekati dia, cari tau apa permasalahannya. Bisa jadi perilaku tersebut karena ada permasalahan internal yang dia hadapi seperti orang tuanya, rumahnya dll. Atau ada permasalahan eksternal seperti teman dia, teman di kampus, teman di komunitas dll.

Menjawab pertanyaan tentang perbedaan ilmu agama dan teknik. Ustadz menjawab, kita tidak bisa memisahkan agama dari kehidupan kita. Jadilah ahli ekonomi, teknik tapi jangan pisahkan agama dari ilmu kita tersebut. Beliau memberi contoh negara Mauritania. Ketika ustadz belajar di madinah, beliau menemukan hampir semua pelajar dari Mauritania lulus dengan predikat cumlaude. Kemudian beliau bertanya, ternyata disana, agama tidak bisa terpisah dari kehidupan sehari-hari. Dalam keluarga, nilai-nilai agama selalu disampaikan. Begitu juga dalam percakapan sehari-hari, mereka senang membahas mengenai al Quran. 

Beliau berpesan agar dosen selalu mengajar dengan niat untuk kebaikan dan mengejar pahala. Karena ada 3 pahala yang terus mengalir walaupun kita sudah meninggal yaitu shodaqoh jariah, ilmu yang bermanfaat dan anak yang shaleh. Orang berilmu yang paling baik adalah yang membagikan ilmu dan mengamalkannya. Perbaiki ibadah untuk membentuk akhlaq. Ustadz menyarankan untuk membuat kurikulum belajar agama.

Misalnya hari senin belajar tentang Hadits, beliau menyerankan belajar dari buku hadis qudsi, riyadusshalihin karya imam nawawi dan kitab targib wa tarhib.

Hari selasa bisa belajar tentang dosa-dosa  dari kitab 76 dosa besar

Hari Rabu belajar dari kita minhajul muslimin karya abu bakar al jazairi

Hari kamis bisa belajar tentang rumah tangga dari kitab mahkota pengantin

Hari Jumat bisa belajar tentang kematian, surga neraka, kubur dari kitab At tadzkirah

Dan hari sabtu bisa belajar tentang sejarah rasul dan sahabat.

Demikian catatan tentang Halal Bihalal kampus kami, semoga bermanfaat!

Beberapa kutipan hadis saya ambil dari beberapa referensi berikut:

Baca selengkapnya https://muslimah.or.id/6449-nikmat-aman-lebih-baik-daripada-kesehatan.html
Referensi: https://almanhaj.or.id/943-berinfaq-di-jalan-allah.html

Simak selengkapnya disini. Klik https://muslim.or.id/20462-lebih-baik-daripada-onta-merah.html

Simak selengkapnya disini. Klik https://muslim.or.id/4197-pahala-melimpah-di-balik-memberi-makan-berbuka.html

Silahkan tuliskan tanggapan, kritik maupun saran