Kau Aku dan Sepucuk Angpau Merah

Akhir pekan ini saya baru saja selesai membaca buku Kau Aku dan Sepucuk Angpau Merah. Buku ini karya Tere Liye. Berkisah tentang Borno, seorang pemuda sederhana di sungai Kapuas. Borno tinggal bersama ibunya di sebuah rumah kayu di pinggiran sungai Kapuas. Ayahnya seorang pengemudi sepit (perahu motor) yang telah meninggal sewaktu dia kecil. Ayahnya meninggal karena sengatan ubur-ubur. Borno adalah pemuda melayu yang jujur, rajin dan  berhati tulus.

Setelah lulus SMA, karena tak memiliki biaya, Borno mencoba mandiri dengan mencari kerja. Berbagai pekerjaan telah dia coba mulai dari bekerja di pabrik karet, dermaga penyeberangan ferry, SPBU dll. Ibu dan sahabatnya kemudian membujuk Borno untuk menjadi pengemudi sepit, mengikuti jejak ayah dan kakeknya.

Saat menjadi pengemudi sepit inilah Borno jatuh cinta dengan seorang “gadis sendu menawan” yang menumpang sepitnya. Gadis bernama Mei ini adalah seorang guru SD dari sebuah yayasan ternama di Pontianak. Ketika turun dari sepit Borno, gadis ini meninggalkan sepucuk angpau merah di sepit Borno. Borno yang sangat pemalu dan tidak pernah mengenal cinta, berusaha mencari-cari Mei untuk mengembalikan angpau tersebut. Setiap hari Borno selalu bangun pagi-pagi dan berusaha mendapat antrian perahu ke 13 hanya demi mendapat kesempatan bertemu dengan Mei yang selalu berangkat setiap pagi ke sekolah.

Kisah cinta mereka agak rumit.  Pertama karena Mei dan Borno ini berasal dari latar belakang keluarga yang berbeda jauh Mei dari keluarga peranakan yang kaya, memiliki rumah besar. Ibu Mei adalah dokter ternama, bapaknya pengusaha kaya. Walaupun begitu Mei tetap hidup sederhana.

Sementara Borno pemuda sederhana yang tinggal di gang sempit di tepi sungai Kapuas. Selain itu ada sebuah kisah masa lalu yang menjadi beban pikiran Mei dan menjadi penghalang kisah mereka. Selain itu sifat Borno yang pemalu dan Mei yang keras kepala juga jadi kendala.

Buku ini sebuah novel  cinta yang berbeda.  Kenapa berbeda? karena tidak ada rayuan gombal ala roman picisan. Menurut saya penulis melalui cerita ini ingin menyampaikan hikmah dan pelajaran yang disisipkan dalam percakapan antara Borno dan Pak Tua. Juga melalui kisah perjuangan Borno yang awalnya hidup susah sampai akhirnya jadi pemilik 2 bengkel. Borno yang terus mau belajar pun bisa mewujudkan cita-citanya untuk kuliah. Buku ini dilengkapi dengan berbagai tingkah lucu sahabat Borno, yang dapat membuat pembaca tersenyum-senyum sendiri ketika membaca buku ini.

Beberapa kata bijak dari Pak Tua:

“Cinta itu macam musik yang indah. Bedanya, cinta sejati akan membuatmu tetap menari meskipun musiknya telah lama berhenti.”

“Urusan perasaan itu ajaib sekali, bahkan bisa membuat merasa sepi di tengah keramaian, ramai di tengah kesepian.”

“…. Kuberitahu kau sebuah rahasia kecil. Dalam urusan ini, sembilan dari sepuluh kecemasan muasalnya hanyalah imajinasi kita. Dibuat-buat sendiri, dibesar-besarkan sendiri.”

 

One thought on “Kau Aku dan Sepucuk Angpau Merah”

Silahkan tuliskan tanggapan, kritik maupun saran