Mengajar di Kelas Inspirasi

Awalnya saya berpikir mengajar di kelas inspirasi tidak akan sulit, karena mengajar merupakan aktifitas sehari-hari saya sebagai dosen. Tapi ternyata tidak mudah mengajar anak kelas 1 SD. Selain itu mengenalkan mimpi pada anak tukang baso, anak pembantu rumah tangga, bahkan ada yg orangtuanya pengangguran merupakan tantangan sendiri. Kondisi lingkungan dan sosial yang terbatas ternyata tidak menghalangi anak-anak ini untuk bermimpi. Dengan suara lantang dan pancaran mata yg meyakinkan, para tunas bangsa ini satu persatu menyebutkan cita-citanya, ada yang ingin jadi dokter, tentara, guru dll. Saya merasakan juga ketulusan hati para ibu guru SD dalam membimbing anak-anak ini. Walaupun ada yang baru mendapat gaji Rp 300 ribu perbulan sebagai guru honorer, tapi saya melihat beliau mengajar dengan hati yg tulus. Selesai mengajar 2 kelas, saya mendapat kabar duka ibunda saya meninggal. Beliau merupakan inspirasi saya selama ini. Tanpa dorongan motivasi ibunda rasanya tak mungkin saya bisa menjadi  seperti saat ini. Sehari mengajar di kelas inspirasi membuat saya merasa lebih mengenal profesi ibunda yang dulunya guru SD. Saya yakin hari ini ibunda kembali dengan tersenyum, karena di hari terkhirnya, anaknya ikut membagi mimpi bagi tunas bangsa. Maju terus pendidikan Indonesia. Sebagai penutup saya sampaikan kalimat yang disampaikan Anies Baswedan pada briefing acara ini : Lets think big, start small and act now!

2 thoughts on “Mengajar di Kelas Inspirasi”

Silahkan tuliskan tanggapan, kritik maupun saran

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.