Rumah Kaca karya Pramoedya

Liburan biasanya selain jalan-jalan saya habiskan dengan membaca buku. Liburan ini saya baru saja berhasil menamatkan buku Rumah Kaca karya Pramoedya Ananta Toer.  Buku ini merupakan buku terakhir (keempat) dari tetralogi buru, yaitu 4 buku yang ditulis ketika pram ditahan di pulau buru. Buku-buku ini bercerita tentang jaman awal kebangkitan nasional Indonesia. Buku pertama adalah bumi manusia, buku kedua anak semua bangsa, buku ketiga adalah jejak langkah.

Buku ini berbeda dengan 3 buku sebelumnya. Kalau pada buku sebelumnya yang bercerita adalah Mingke alias RM TAS, di buku ini yang bercerita adalah Jacques Pangemanann (dengan dua n). Pangemanann adalah seorang komisaris Polisi Belanda asal Menado yang menyelesaikan studinya di Prancis. Pada akhir Jejak Langkah diceritakan Pangemanann mendapat tugas menangkap Mingke dan mengantar ke tempat pembuangan di maluku. Setting buku ini masih sekitar awal tahun 1900an, masa-masa awal kebangkitan nasional.

Setelah sukses menangkap Mingke, Pangemanann mendapat tugas baru di kantor algemeine Secretar di Buitenzorg (bogor). Tugasnya adalah memata-matai tumbuhnya berbagai organisasi di Hindia. Mungkin semacam badan intelejen. Selain memata-matai Pangemanann juga mendapat tugas memberikan perintah untuk menangkap, mempengaruhi ataupun menyusup di organisasi-organisasi ini. Pangemanann menamakan pekerjaannya ini seperti bekerja di rumah kaca. Dari rumah kaca ini dia dapat melihat dan mengawasi seluruh kegiatan perjuangan di Hindia. Hasil riset dan analisa Pangemanann ini yang kemudian jadi bahan pertimbangan bagi Gubernur Jenderal Belanda.

Setelah berhasil membuat lumpuh Syarikat Dagang Islam dan koran Medan Priyayi, tidak berarti pergerakan para pribumi mati. Justru muncul organisasi baru seperti Syarikat Islam, Indische Partij, organisasi pemuda kedaerahan dll. Setelah Mingke dibuang, muncul pula tokoh-tokoh perjuangan baru seperti tjokroaminoto, douwes dekker, marco kartodikromo, Siti Soendari, Tjipto Mangunkusumo, dll. Satu persatu tokoh-tokoh ini diawasi Pangemanann dari rumah kacanya.

Di buku ini sebenarnya Pram mencoba menceritakan sejarah awal kebangkitan nasional tapi dari sudut pandang seorang pejabat Gubermen. Selain itu kita juga akan disuguhi dengan konflik moral Pangemanann yang sebenarnya seorang pribumi tapi demi karirnya harus membasmi organisasi pribumi. Konflik moral yang mengakibatkan Pangemanann mulai banyak mabuk-mabukan dan mengenal Rientje de Roo seorang pelacur. Akibatnya rumah tangganya hancur. Di akhir buku setelah 5 tahun ditahan Mingke kembali pulang ke batavia, dan meninggal secara tragis disana.

Buku ini sebenarnya sangat menarik, karena kita bisa mengenal sejarah perjuangan negeri ini. Hanya saja menurut saya alur ceritanya agak membosankan, karena Pram mencoba menuliskan kisah ini dari sisi pejabat Gubermen. Di buku ini juga mulai terlihat kecenderungan Pram yang menceritakan dan memuji tokoh-tokoh kiri seperti Samaun dll, dan  kecenderungan Pram yang kurang menyukai organisasi Syarikat Islam maupun Boedi Oetomo. Walaupun begitu buku ini merupakan karya yang luar biasa dari seorang Pram. Berikut beberapa quotes dari buku ini

Seorang tanpa prinsip adalah sehina hina orang, manusia setengik tengiknya

Perjuangan tidak bisa berjalan tanpa organisasi organisasi yang berani, cerdas, dan berwatak

Orang menjadi besar karena tindakannya besar, pikirannya besar, jiwanya besar

Selamat Membaca!

2 thoughts on “Rumah Kaca karya Pramoedya”

    1. wah, pdfnya saya gak punya,di toko buku masih banyak yang jual bukunya kang

Silahkan tuliskan tanggapan, kritik maupun saran