Strategi menulis buku ajar

… tulisan ini merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya tentang webinar menulis buku ajar…

Setelah melakukan studi pasar dan menentukan positioning buku yang akan kita tulis, teknik berikutnya yang dijelaskan Pak Suyanto adalah bahasa yang digunakan harus mengandung motivasi dan kekinian. Harapannya buku yang ditulis ini bisa menjadi inspirasi bagi pembacanya. Sumber motivasinya bisa dari pengalaman pribadi, ataupun prospek penerapan teknologi dan tema yang sedang dibahas dalam buku tersebut.

Tips berikutnya, buku yang ditulis harus mencerahkan (enlightening). Caranya dengan merancang gambar, tabel dan ilustrasi yang menarik. Menurut beliau pada buku ajar yang bagus, orang melihat gambar dan ilustrasi yang baik sudah memiliki bayangan tentang tema yang dibahas.

Tips berikutnya adalah penyusunan bab (chaptering) harus dirancang dengan baik. Biasanya dimulai dari materi yang paling dasar atau mudah, kemudian pelan-pelan mulai ditingkatkan kesulitannya. Begitu juga tugas baiknya dimulai dari yang paling mudah, kemudian pelan2 ditingkatkan kesulitannya. Bagian ini disebut juga (plotting). Menurut beliau untuk chaptering ini dia mulai dengan struktur mata kuliah yang dia ajar, atau dari mata kuliah referensi di beberapa kampus beken. Beliau biasanya liat juga referensi dari buku best seller internasional dan paper survey dari jurnal beken.

Setelah dibuat kerangka bab-nya dirancang juga sub-bab apa saja yang akan ditulis, dan dilanjutkan dengan kerangka isi paragrafnya. Baru poin-poinnya saja. Dalam penyusunan ini harus dipikirkan kohesinya, keterkaitan antara bab dengan bab, sub-bab dengan sub-bab maupun paragraf dengan paragraf. Pak Suyanto menyusun struktur ini mengikuti slide perkuliahan. Dan selanjutnya dipikirkan juga kohesi antara kalimat dengan kalimat. Dan jangan lupa referensi juga harus akurat. Temukan referensi yang terpercaya. Tentang referensi ini pak Suyanto menggunakan paper review dari sciencedirect dan scopus.

Setelah kita susun kerangka tulisan tadi, baru kita mulai menulis. Tips dari beliau adalah menulis cepat, edit belakangan. Jadi tulis aja dulu yang ada di kepala dengan cepat, gak usah mikirin typo, kesalahan eyd, dll. Tumpahkan saja dulu semua ide yang ada di kepala ke dalam tulisan. Rutinkan menulis selama 2 jam perhari.

Menurut beliau kesalahan penulis pemula:

  1. kepala kosong di depan laptop
  2. menulis sambil mengedit, tidak mau ada salah ketik (perfeksionis)
  3. Menulis sampai sempurna; bold italic, numbering, equation dll

Pak Suyanto bercerita dalam menulis buku dia membutuhkan waktu yang berbeda-beda. Ada yang selesai dalam 1 bulan, namun ada juga bukunya yang baru selesai dalam 36 bulan. Beliau bisa menyelesaikan 1 halaman dalam 1 jam, 180 halaman dalam 1 bulan.

Beliau menyarankan untuk berkolaborasi dengan dosen maupun mahasiswa dalam menulis buku ajar. Ada prinsip 2T yang diperlukan dalam menulis buku ajar yaitu:

Teams: (advisor, authors, illustrator, proofreader, dst)

Tools: (Scopus, Mendeley, Latex/Word, Excel, Visio, dll)

Beliau membagi proses penulisan menjadi 7:

  1. Survei buku-buku best seller (nasional & internasional)
  2. Penetapan gagasan (wujud akhir buku)
  3. Pembuatan kerangka (bab/subbab: judul, sinopsis, gambar, tabel, equation)
  4. Penulisan konten di setiap bab dan subbab
  5. Penomoran gambar, tabel, equation dan sitasi secara otomatis
  6. Pembuatan front matter (penulis, kata pengantar, sinopsis buku, judul buku)
  7. Validasi, Verifikasi, editing dan proofreading

Untuk penerbitan sebaiknya pelajari dulu tentang penerbit yang jadi tujuan. Seperti apa proses reviewnya, konten khasnya seperti apa , bagaimana skema kontraknya dll. Untuk mendapatkan info tersebut bisa tanyakan ke penulis yang sudah berhasil menerbitkan buku disana. Beliau pernah ditolak naskahnya karena tidak sesuai dengan lini penerbitan disana. Beliau merekomendasikan beberap penerbit berikut ini, beserta topik khasnya:

  1. Informatika (Teori dan pemrograman)
  2. Penerbit rekayasa sains (matematika)
  3. Modula (Modul praktis)
  4. Andi (Teori dan pemrograman)
  5. Elexmedia (Howto)
  6. Erlangga (pelajar dan mahasiswa)
  7. Graha Ilmu (Umum)

Beberapa tips berikut untuk proses penerbitan:

Kebanyakan penerbit hanya menerima file .doc, ada juga yang menerima latex tapi prosesnya jadi lama, karena keterbatasan tenaga editor yang bisa pake latex. Menurut pengalaman beliau yang menerima file latex hanya penerbit informatila. Proses editing, setting dan cover normalnya butuh waktu 1 bulan. Namun untuk editing latex butuh waktu lebih lama. Penerbit hanya menerima dokumen yang sudah lengkap dari awal sampai akhir.

Beliau kemudian menampilkan grafik perbandingan nilai konten dan potensi pasar dengan berapa lama keputusan penerbit untuk menerima atau menolak naskah kita. Bila kontennya baik dan memiliki potensi pasar yang tinggi umumnya setelah 1 bulan akan diputuskan diterima oleh penerbit. Namun bila kontennya jelek dan nilai potensi pasar rendah maka dalam 2 minggu sudah ditolak. Naskah kita akan dinilai terlebih dahulu oleh beberapa reviewer yang ditunjuk oleh penerbit.

Skema pembayaran penerbitan tidak sama untuk semua penerbit. Ada yang jual putus, maksudnya royalti langsung dibayar di depan, nilainya tergantung kesepakatan. Ini biasanya untuk penulis yang sudah mapan. Ada juga yang menggunakan sistem royalti, maksudnya dibayar persemester, dihitung berdasarkan jumlah buku yang terjual. Biasanya sebesar 10% dari harga buku (kena pajak 15%). Atau ada juga yang pake skema semi putus, yaitu royalti dibayar langsung didepan, misalnya sebesar Rp 50 ribu perhalaman. Kemudian pada setiap cetak ulang tanpa revisi dapat royalti lagi sebesar 50%. Sementara kalo cetak ulang dengan revisi, dapat royalti sebesar 100%.

Beberapa buku yang pernah dia tulis diantaranya:

  1. Tentang algoritma genetika dalam matlab. Menurut beliau konten ini strukturnya berasal dari kuliah S2 dia dulu di swedia.
  2. Artificial intelligence disusun dari slide kuliah
  3. Evolutionary computation, buku ini disusun cukup lama sekitar 6 bulan
  4. Soft Computing, buku ini cukup berkesan menurut beliau, karena dia mendapat feedback dari pembaca yang mengatakan membaca buku ini menyenangkan, seperti membaca novel.
  5. Algoritma optimasi, disusun selama 24 bulan
  6. Data mining, disusun selama 36 bulan, yang menarik motivasinya menulis buku ini menurut beliau adalah karena takut dosa.
  7. Swarm Intelligence
  8. Machine learning
  9. Deep Learning
  10. Evolutionary machine learning

Menulis buku ajar menurut beliau akan lebih bermanfaat, dibandingkan menulis paper, karena coveragenya lebih luas. Selain itu menulis buku ini akan memberi manfaat domino effect, peacock effect, snowball effect maupun chain reaction bagi penulisnya.

Beliau memberi contoh step-step penulisan bulu explainable AI sebagai berikut:

  1. Bikin struktur buku
  2. Masukan gambar2 terlebih dahulu dari referensi (misalnya copas dr survey paper). Tahap awal ini hanya untuk memudahkan, selanjutnya nanti gambar ini akan diganti dengan gambar yang dibuat sendiri.
  3. Rancang alur cerita
  4. Catat referensi pada subbab

Tentang buku referensi beliau menambahkan bahwa buku referensi berasal dari hasil riset. Buku referensi biasanya gak komersil, jadi penulis yang menanggung seluruh biaya cetaknya. Biasanya untuk penerbitan minimal penerbit mencetak 1000 eksemplar, dengan harga buku rata-rata 100 ribu. Untuk buku teks biasanya minimal 200 lembar, dan maksimal 500 lembar

Demikian catatan dari webinar ini, terima kasih banyak pak Suyanto. Semoga bermanfaat!

Silahkan tuliskan tanggapan, kritik maupun saran