Sholat Idul Fitri di Rumah

Tahun ini saya sepertinya akan sholat idul fitri di rumah. Berikut ini panduan sholat idul fitri dirumah sesuai fatwa MUI:

  1. Sebelum shalat, disunnahkan untuk memperbanyak bacaan takbir, tahmid, dan tasbih.
  2. Shalat dimulai dengan menyeru “ash-shalâta jâmi‘ah”, tanpa azan dan iqamah.

  3. Memulai dengan niat shalat Idul Fitri:

Ushalli sunnatan ‘idil fithri rakatayni (imaman/makmuman) lillahi ta’ala

“Aku berniat shalat sunnah Idul Fitri dua rakaat (menjadi makmum/imam) karena Allah ta’ala.”

  1. Membaca takbiratul ihram )أكبر هللا )sambil mengangkat kedua tangan.
  • Membaca doa iftitah.

  • Membaca takbir sebanyak 7 (tujuh) kali (di luar takbiratul ihram) dan di antara tiap takbir itu dianjurkan membaca: ِ

  • subhanallahi walhamdulillahi wala ilaha illallahu wallahu akbar

    Membaca surah al-Fatihah, diteruskan membaca surah yang pendek dari Alquran.

    1. Ruku’, sujud, duduk di antara dua sujud, dan seterusnya hingga berdiri lagi seperti shalat biasa.
  • Pada rakaat kedua sebelum membaca al-Fatihah, disunnahkan takbir sebanyak 5 (lima) kali sambil mengangkat tangan, di luar takbir saat berdiri (takbir qiyam), dan di antara tiap takbir disunnahkan membaca:

  • subhanallahi walhamdulillahi wala ilaha illallahu wallahu akbar

    1. Membaca Surah al-Fatihah, diteruskan membaca surah yang pendek dari Alquran.
  • Ruku’, sujud, dan seterusnya hingga salam.

  • Setelah salam, disunnahkan mendengarkan khutbah Idul Fitri.

  • Khutbah

    1. Khutbah ‘Id dilaksanakan dengan dua khutbah, dilaksanakan dengan berdiri dan di antara keduanya dipisahkan dengan duduk sejenak.

    2. Khutbah pertama dilakukan dengan cara sebagai berikut:

    a. Membaca takbir sebanyak sembilan kali

    b. Memuji Allah dengan sekurang-kurangnya membaca: الحمد ه (alhamdulillah)

    c. Membaca shalawat nabi saw, antara lain dengan membaca اللهم صل على سيدنا محمد  (allahumma shalli a’la sayidina muhammad)

    d. Berwasiat tentang takwa.

    e. Membaca ayat Al-Qur’an

    1. Khutbah kedua dilakukan dengan cara sebagai berikut:

    a. Membaca takbir sebanyak tujuh kali

    b. Memuji Allah dengan sekurang-kurangnya membaca : الحمد ه (alhamdulillah)

    c. Membaca shalawat nabi saw, antara lain dengan membaca اللهم صل على سيدنا محمد (alhamdulillah

    d. Berwasiat tentang takwa.

    e. Mendoakan kaum muslimin

    Amaliah sunnah idul Fitri

    1. Mandi dan memotong kuku
    2. Memakai pakaian terbaik dan wangi-wangian

    3. Makan sebelum melaksanakan shalat Idul Fitri

    4. Mengumandangkan takbir hingga menjelang shalat.

    5. Saling mengucapkan selamat (tahniah al-id) antara lain mengucapkan dengan تقبل هللا منا و منكم  (taqabballahu minna wa minkum)

    Semoga Bermanfaat!

    Referensi:

    https://mui.or.id/wp-content/uploads/2020/05/Fatwa-MUI-No-28-Tahun-2020-tentang-Panduan-Kaifiat-Takbir-dan-Shalat-Idul-Fitri-saat-Covid-19.pdf

    Shaum dan Taqwa

    Ibadah shaum merupakan ibadah yang unik. Dulu sewaktu masih di jerman seringkali saya harus menanggapi pertanyaan2 skeptis dari teman2 saya mengenai ibadah ini. Mereka  sering mengartikan ibadah ini sebagai ajang penyiksaan tubuh. Konon kata “puasa” konon berasal dari bahasa sansekerta yang artinya “menyiksa diri”. Sementara shaum sendiri bermakna menahan diri.

    Bila kita telaah ternyata ibadah ini telah lama diperintahkan jauh sebelum Nabi Muhammad SAW memperoleh wahyu dari Allah SWT. Bahkan penemuan ilmu pengetahuan terkini telah membuktikan bahwa binatang maupun tumbuhan juga menjalankan shaum.

    Hai orang2 yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang2 sebelum kamu,agar kamu bertakwa (Q.S.2:183)

    Ternyata memang bukan hanya umat Muhammad yang mendapat perintah puasa, dari Ibnu Katsir diriwayatkan bahwa para Nabi sejak Nabi Nuh A.s sampai Nabi Isa A.s menjalankan puasa minimal 3 hari per bulan. Nabi Musa a.s menjalankan puasa selama 40 hari penuh. Kemudian dari Q.S.Maryam juga disebutkan bahwa nabi Isa A.s, Maryam dan nabi Zakariya A.s juga menjalankan puasa. Nabi Daud A.s bahkan menjalankan puasa setiap 2 hari.
    Sebelum mendapatkan wahyu, nabi Muhammad SAW juga rutin menjalankan puasa selama 3 hari dalam sebulan.

    Binatang dan tumbuhan ternyata juga menjalankan ibadah puasa ini, contohnya ayam pada saat mengerami telur, ular yang berpuasa agar menjaga kulitnya agar tetap dapat melindungi dirinya dari sinar matahari maupun lingkungannya, maupun juga Pinguin pada saat mengerami telur. Kesemua binatang tersebut menjalankan puasa agar dapat bertahan hidup di lingkungannya.

    Dari ayat diatas disebutkan tujuan berpuasa adalah agar kita mencapai derajat taqwa.

    • Beberapa ulama mendefinisikan taqwa adalah melaksanakan segala perintah Allah SWT & meninggalkan segala larangannya.

    Ada banyak sekali contoh dan tuntunan tentang taqwa.

    Abu Hurairah pernah ditanya: “Abu Hurairah, Apa itu takqwa?”
    Beliau menjawab “Apakah engkau pernah melalui jalan yang penuh duri ? ”
    “Tentu saja” jawab sang penanya.
    “Lalu apa yang engkau lakukan? ” Abu Hurairah balik bertanya.
    “Jika aku melihat duri maka aku akan menyingkirkannya atau menghindarinya” jawab sang penanya
    “Nah, Demikianlah itu taqwa” kata Abu Hurairah. Demikianlah beliau mencoba menjelaskan makna taqwa.

    • Taqwa juga dapat dimaknakan sebagai sikap hati2 & waspada dalam menjalani kehidupan karena khawatir terjerumus dosa.

    Hal ini didasarkan pada hadits berikut :
    Seorang mukmin tidak akan mencapai derajat takqa hingga meninggalkan hal2 yang tidak berguna karena khawatir terjerumus ke dalam hal2 yang haram” H.R Bukhari.

    Ciri lain orang bertawa pernah dijelaskan oleh Nabi Daud A.s kepada Nabi Sulaiman A.s
    “Anakku, engkau akan menemukan ketakwaan pada seseorang dengan 3 hal :

    1. tawakal atas apa saja yang menimpa dirinya,
    2. Ridha atas apa saja yang Allah berikan padanya, dan
    3. Zuhud atas apa saja yang hilang dari dirinya”

    Walaupun shaum bertujuan agar kita dapat menjadi orang yang bertaqwa, ternyata tidak semua orang yang shaum di bulan Ramadhan akan memperoleh gelar taqwa.
    Hadits rasulullah , “Betapa banyak orang yang berpuasa hanya mendapatkan haus dan dahaga belaka . Dan betapa banyak orang yang Shalat malam hanya mendapatkan begadangnya saja. ”
    Umar bin Abdul Aziz mengartikan taqwanya seseorang tidaklah dapat dilihat dari seringnya shaum ataupun seringnya shalat malam atau dua duanya, tetapi taqwa itu bila orang tersebut meninggalkan apa yang diharamkan dan melaksanakan perintah Allah SWT.

    Sebagai penutup semoga kita termasuk orang2 yang lulus dari bulan Ramadhan dengan memperoleh gelar taqwa karena orang yang bertaqwa merupakan golongan yang mulia di hadapan Allah SWT.
    Seperti penjelasan Allah pada Q.S.49:13 ” Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa diantara kamu”
    Syekh Abdul Qadir Jailani mengajarkan “Kemuliaan seseorang karena takwanya, kehinaan seseorang karena maksiatnya.”

    Menyikapi Perbedaan

    Minggu ini saya dapat giliran ngasih kultum, alias kuliah kumaha antum. Padahal gak pernah ngerasa jadi ustad. Cuman semua warga sini dapet giliran. Bingung juga mau cerita apa, masa saya cerita tentang malware. Nanti dibilang ustad malware. Akhirnya mendadak browsing-browsing, akhirnya saya pilih topik tentang menyikapi perbedaan. Berikut ini contekan saya pas kultum.

    Alhamdulillahi rabbil’aalamiin, washsholaatu wassalaamu ‘ala isyrofil anbiyaai walmursaliin, wa’alaa alihi washohbihii ajma’iin ammaba’ad

    Kemaren saya ngobrol dengan tetangga saya, dia bilang, saya mah sekarang tarawih di rumah aja a’. Karena saya mah dari kecil biasa taraweh teh 2 rakaat 2 rakaat. Kalo di mesjid situ mah 4 rakaat. Seringkali memang dalam kehidupan kita, terjadi perbedaan pendapat. Contoh lainnya misalnya ada 2 orang sahabat yang berbeda pilihan politiknya. Yang satu memilih A yang lainnya memilih B. Kemudian hanya gara-gara perbedaan pilihan itu, mereka ribut, bahkan jadi musuhan.

    Sebenarnya perbedaan itu adalah suatu hal yang wajar, dan pasti terjadi.

    Jikalau Rabbmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Rabbmu dan untuk itulah Allah menciptakan mereka.” (Hud: 118-119).

    Nah karena perbedaan pendapat itu pasti ada, yang penting adalah bagaimana kita menyikapinya.

    “Jika kalian berselisih tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul-Nya, jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” [An-Nisa’ : 59]

    Maksudnya bila terjadi perbedaan pendapat tentang sesuatu, yang pertama kita cari dulu penjelasannya di Quran dan Hadis. Jadi baiknya kita bertanya tentang masalah yang kita berbeda pendapat tersebut, kepada ulama yang menguasai Quran dan hadis.

    Kemudian tetap menjaga akhlak, ketika terjadi perbedaan pendapat. Sebaiknya kita jauhi perdebatan yang tidak berguna. Jangan sampai kita saling mencela orang lain.

    “Saya memberikan jaminan rumah di pinggiran surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan walaupun dia orang yang benar. Saya memberi kan jaminan rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan kedustaan walaupun dia bercanda. Saya memberikan jaminan rumah di surga yang tinggi bagi orang yang membaguskan akhlaknya.” (HR Abu Dawud; dari kitab Riyadhus Shalihin).

    Kemudian saya cerita tentang kisah perbedaan pendapat pada jaman Khalifah Ali ra. Pada waktu itu khalifah Utsman ra dibunuh, terjadi perbedaan pendapat di kalangan ummat muslim saat itu. Satu pihak langsung membaiat Ali bin Abi Thalib r.a sebagai khalifah. Satu pihak lagi belum berbaiat, alasannya mereka meminta Ali untuk menangkap pembunuh Utsman Bin Affan ra terlebih dahulu.

    Perbedaan sikap antara ummat ini dimanfaatkan oleh pihak ketiga, untuk mengadu domba umat. Tokohnya adalah Abdullah bin Saba. Konon dia adalah seorang Yahudi yang berpura-pura masuk Islam.

    Awalnya Abdullah bin Saba’ berusaha ngomporin Ali bin Abi Thalib untuk merebut jabatan khalifah dari Utsman bin Affan. Tapi tidak berhasil. Selanjutnya, Abdullah bin Saba’ memprovokasi penduduk Mesir untuk membunuh Khalifah Utsman bin Affan. Mereka terprovokasi oleh berita hoax tentang Utsman bin Affan. Namun upaya ini gagal, penduduk Mesir tidak jadi membunuh Utsman setelah bertemu dan mendapat penjelasan langsung dari Sang Khalifah dan para Sahabat.

    Abdullah bin Saba bahkan membuat surat palsu seolah-olah Utsman memerintahkan kepada gubernur Mesir untuk ‘balas dendam’ membunuh rombongan yang sebelumnya mau membunuh khalifah. Namun Abdullah bin Saba berhasil melakukan rencana pembunuhan Utsman

    Setelah terbunuhnya Utsman, Ali bin Abi Thalib kemudian diangkat menjadi Khalifah, namun terjadi perbedaan pendapat dikalangan para sahabat tentang pembunuh Utsman. Aisyah ra, Thalhah ra, Zubair ra, Muawiyyah ra, dll menuntut segera dilakukan hukuman kepada para pembunuh Utsman. Namun, Khalifah Ali bin Abi Thalib memilih untuk menundanya, karena kondisi negara sedang dalam keadaan kacau, sehingga perlu ditertibkan dahulu.

    Kondisi ini dimanfaatkan oleh Abdullah bin Saba’ untuk ngomporin kedua kubu ini, sehingga situasinya menjadi semakin panas. Akibat provokasi ini hampir terjadi perang antara kedua kubu. Untuk mencegah peperangan, diadakan pertemuan antara Khalifah Ali beserta pasukannya dan ‘Aisyah, Thalhah, Zubair, dan pasukannya. Diskusi antara kedua kubu memutuskan segera memberikan hukuman kepada para pembunuh Utsman.

    Mendengar berita ini, Abdullah bin Saba gelisah dan merencanakan rekayasa peperangan diantara para Sahabat. Ketika malam hari, dimana para Sahabat dan pasukan mereka sedang beristirahat, pasukan Abdullah bin Saba menyerang pasukan Aisyah, Thalhah, Zubair dll. Ketika pasukan Aisyah mencari tahu siapa yang menyerang mereka, munculah hoax bahwa yang menyerang mereka pasukan Aisyah adalah pasukan Ali. Mendengar berita tersebut, pasukan Aisyah langsung menyerang pasukan Ali. Sehingga terjadilah perang jamal. Perang jamal ini dimenangkan oleh pasukan Ali. Namun Thalhah dan Zubair, dua sahabat yang dijamin masuk surga, syahid.

    Setelah perang jamal, ternyata situasinya semakin kacau. Gubernur Damaskus, Muawiyyah mengirim pasukannya untuk meminta Ali segera memberikan hukuman bagi para pembunuh Utsman. Khalifah Ali memerintahkan pasukannya untuk memberikan penjelasan dan mencegah pasukan Muawiyyah agar tidak masuk ke Ibukota. Namun pertemuan pasukan Ali dan Muawiyyah di Shiffin justru menghasilkan perang saudara. Perang ini dinamakan Perang Shiffin. Perang Shiffin dimenangkan oleh pasukan Ali. Akibat perang Jamal dan shiffin ini konon awal mula perpecahan dalam umat Islam.

    Hikmah dari peristiwa tersebut, adalah ketika terjadi perbedaan pendapat, kita harus waspada. Selalu ada pihak ketiga yang melakukan provokasi dan mengadu domba. Hindari keributan, lakukan dialog dan tetap utamakan ukhuwah.

    “Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah, nasihat yang baik, dan berdialoglah dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu lebih mengetahui orang-orang yang tersesat, dan Dia lebih mengetahui siapa yang mendapatkan petunjuk.” QS Annahl 125

    Demikian semoga ada manfaatnya. Subhaanakallaahumma wa bihamdika asyhadu allaa ilaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika”

    Doa Qunut Witir

     

    Pada akhir bulan Ramadhan ada anjuran untuk membaca doa Qunut pada rakaat terakhir sholat witir. Doanya dibacakan pada saat i’tidal yaitu setelah ruku dan sebelum sujud. Bacaannya adalah sebagai berikut:

    Kalau kita sholat sendiri:

    اَللّٰهُمَّ اهْدِنِىْ فِيْمَنْ هَدَيْتَ، وَعَافِنِى فِيْمَنْ عَافَيْتَ، وَتَوَلَّنِىْ فِيْمَنْ تَوَلَّيْتَ، وَبَارِكْ لِىْ فِيْمَا اَعْطَيْتَ، وَقِنِيْ شَرَّمَا قَضَيْتَ، فَاِ نَّكَ تَقْضِىْ وَلاَ يُقْضَى عَلَيْكَ، وَاِ نَّهُ لاَ يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ، وَلاَ يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ، تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ، فَلَكَ الْحَمْدُ عَلَى مَا قَضَيْتَ، وَاسْتَغْفِرُكَ وَاَتُوْبُ اِلَيْكَ، وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ اْلاُمِّيِّ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

    Allahummahdini fiiman hadayt, wa ‘aafinii fiiman ‘aafayt, wa tawallanii fiiman tawallayt, wa baariklii fiiman a’thoyt, waqinii syarro maa qodhoyt, wallaa yuqdhoo ‘alaik, wa innahu laa yadzillu man waalayt, walaa ya’izzu man ‘aadayt, tabaarakta robbanaa wa ta’aalayt, wa astagfiruka wa atuubu ilaik,  wa shallallâhu ‘alâ sayyidinaa Muhammadin nabiyyil ummiyyi wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa sallam.”

    Artinya: “Ya Allah, berilah aku petunjuk sebagaimana Engkau memberikan petunjuk (kepada selainku), berilah keselamatan sebagaimana Engkau memberikan keselamatan (kepada selainku), rawatlah aku sebagaimana Engkau merawat orang lain, berilah keberkahan kepadaku pada semua pemberian-Mu, lindungilah aku dari kejelekan takdir-Mu, sesungguhnya Engkau menakdirkan dan tidak ditakdirkan, dan sesungguhnya tidak terhinakan orang yang menjadikan Engkau sebagai wali, dan tidak mulia orang yang Engkau musuhi. Maha Suci dan Maha Tinggi Engkau, wahai Rabb kami. Maha bagi Engkau segala pujian di atas yang Engkau hukumkan, aku memohon ampun dari Engkau dan aku bertaubat kepada Engkau. Dan semoga Allah mencurahkan rahmat dan sejahtera ke atas junjungan kami Nabi Muhammad, keluarga, dan sahabatnya.”

    versi lainlkalau jadi imam:

    اللَّهُمَّ اهْدِنَا فِيمَنْ هَدَيْتَ وَعَافِنَا فِيمَنْ عَافَيْتَ وَتَوَلَّنَا فِيمَنْ تَوَلَّيْتَ وَبَارِكْ لَنَا فِيمَا أَعْطَيْتَ وَقِنَا شَرَّ مَا قَضَيْتَ فَإِنَّكَ تَقْضِى وَلاَ يُقْضَى عَلَيْكَ وَإِنَّهُ لاَ يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ

    Allahummadinaa Fiiman Hadait, Wa ’Aafinaa Fiiman ‘Aafait, Wa Tawallanaa Fiiman Tawallait, Wa Baarik Lanaa Fiima A’thoit, Wa Qinaa Syarro Maa Qodhoit (bagian ini biasanyadibaca jahar/keras oleh imam karena berisi doa dan diaminkan oleh jamaah)

    Fa Innaka Taqdhi Wa Laa Yuqdho ‘Alaik, Wa Innahu Laa Yadzillu Man Waalait, Tabaarokta Robbanaa Wa Ta’aalait.(bagian ini biasanya dibaca sirr/pelan oleh imam karena berisi pujian )

    Wa Shollalahu A’la Nabiyyinaa Muhammadin Wa ‘Ala Aalihi Wa Shoh-Bihi Wa Baarik Wa Sallam (dibaca jahar)

    semoga bermanfaat:

    referensi:

    https://tirto.id/bacaan-doa-qunut-witir-di-bulan-ramadhan-arab-latin-artinya-fkAL

    https://rumaysho.com/24312-bacaan-doa-qunut-witir-bagi-imam-dan-yang-shalat-sendirian.html

    Syafakallah, syafakillah bedanya apa?

    Kalo ada temen yang sakit sering kita mendengar ada yang memberi ucapan syafakallah. Ada juga yang bilang syafakillah, sebenernya bedanya apa ya? Ternyata artinya sama aja yaitu semoga Allah memberikan kesembuhan padamu. Cuman secara tata bahasa arab ternyata beda pemakaiannya. Jadi menurut grammarnya arab, beda ucapan untuk cowo/ cewe, kalian dll. Bingung kan? Tata bahasa arab memang lebih detail dibandingkan bahasa kita. Kurang lebih kayak gini pemakaiannya ya:

    Syafakallah : Semoga Allah memberikan kesembuhan untuk kamu (cowo)

    Syafakillah: untuk kamu (cewe)

    Syafahullah: untuk dia (cowo)

    Syafahallah: untuk dia (cewe)

    Syafakumullah: untuk kalian (laki-laki)

    Syafahumullah: untuk mereka (laki-laki).

    Syafahunnallah: untuk mereka (perempuan)

    Ada juga doa yang lain yang bisa kita baca kalo kita jenguk orang sakit:

    Allahumma Robbannas, Adz-Hibil Ba’sa Isyfi Antasy-Syafi La Syifa’a Illa Syifa’uka Syifa’an La Yughadiru Saqoman

    artinya: Ya Allah Tuhan dari semua manusia, hilangkan segala penyakit, sembuhkanlah, hanya Engkau yang dapat menyembuhkan, tiada kesembuhan kecuali dari pada-Mu, sembuh yang tidak dihinggapi penyakit lagi.

    Selamat Hari Raya Idul Fitri 1439

    Selamat Hari Raya Idul Fitri 1439 H. Taqabbalallahu Minna Wa Minkum. Mohon Maaf Lahir dan Batin. Eid Mubarak. Menyambut lebaran kali ini saya akan share kisah lebaran Rasulullah SAW bersama seorang anak yatim:

    Kisah Lebaran Rasulullah SAW

    Di suatu hari raya Rasulullah SAW berangkat keluar rumah untuk melaksanakan shalat Idul Fitri. Adalah sebuah kebiasaan beliau untuk mengambil jalan yang berbeda menuju tempat sholat. Di suatu jalan beliau melihat anak-anak kecil tengah bermain riang gembira di jalanan merayakan hari kemenangan. Tetapi tak jauh dari situ beliau melihat seorang anak kecil duduk menyendiri. Anak yang memakai pakaian sederhana itu tampak murung, ia menangis tersedu.

    Rasulullah SAW yang berhati lembut segera menghampiri anak tersebut. “Nak, mengapa kau menangis? Kau tidak bermain bersama mereka?” Rasulullah membuka percakapan.

    Anak kecil yang tidak mengenali bahwa di hadapannya adalah Rasulullah SAW menjawab, “Paman, ayahku telah wafat. Ia mengikuti Rasulullah SAW dalam menghadapi musuh di sebuah pertempuran. Tetapi ia gugur dalam perang tersebut.”

    “Ibuku menikah lagi. Ia memakan warisanku, peninggalan ayah. Sedangkan suaminya mengusirku dari rumahku sendiri. Kini aku tak memiliki apapun. Makanan, minuman, pakaian, dan tempat tinggal. Aku bukan siapa-siapa. Tetapi hari ini, aku melihat teman-teman sebayaku merayakan hari raya bersama ayah mereka. Dan perasaanku dikuasai oleh nasib kehampaan tanpa ayah,” begitulah cerita anak ini sambil menangis

    Mendengar cerita anak ini, Rasulullah SAW pun iba. Ternyata ada anak-anak yatim dari sahabat yang gugur membela agama dan Rasulnya di medan perang yang mengalami kesedihan di hari raya ini.

    Rasulullah yang sangat baik hatinya pun berkata kepada anak ini.“Nak, dengarkan baik-baik. Apakah kau sudi bila aku menjadi ayahmu, Aisyah menjadi ibumu, Ali sebagai pamanmu, Hasan dan Husein sebagai saudaramu, dan Fatimah sebagai saudarimu?” tanya Rasulullah.

    Mendengar tawaran itu, anak ini kaget, ternyata yang ada dihadapanya adalah Nabi Muhammad SAW.

    “Kenapa tak sudi ya Rasulullah?” jawab anak ini dengan senyum terbuka.

    Rasulullah SAW kemudian membawa anak ini pulang ke rumah. Di sana anak ini diberikan pakaian dan diajak makan. Setelah ia pun keluar dari rumah Rasulullah dengan senyum dan wajah bahagia. … Wallahu a‘lam.

    Demikianlah tuntunan Rasulullah SAW, semoga kita dapat mengambil pelajaran dari kisah ini. Semoga Bermanfaat!

    Sumber:

    Durratun Nashihin karya Syekh Usman bin Hasan bin Ahmad Syakir Al-Khubawi

    kitab at-Tarikh al-Kabir karya Muhammad bin Ismail al-Bukhari

    Hakikat Shaum Ramadhan

    Alhamdulillah Ramadhan telah tiba. Bulan Ramadhan biasanya kesempatan untuk menambah ilmu dengan mendengarkan tausyiah-tausyiah. Kemarin saya mendengarkan ceramah tentang Hakikat Shaum Ramadhan. Yang disampaikan oleh Dr Agus Syihabudin di mesjid Salman. Beliau Dosen agama di ITB. Saya coba share disini materi beliau yang sempat saya ingat.

    Hakikat Shaum Ramadhan

    Menurut beliau Hakikat Ramadan disampaikan pada Al-Quran surat 2 ayat 183-188. “Dimulai dari perintah, hai orang-orang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa…. dst” Namun pada ayat 186, pembahasannya seolah-olah tidak nyambung dengan tema shaum. Yaitu “Dan jika hambaku bertanya padamu tentang keberadaannku. Maka sesungguhnya aku dekat… dst

    Menurut beliau sebenarnya ayat ini menjelaskan hakikat dari shaum. Yaitu kita pada bulan ramadhan ini berlatih untuk memantapkan keyakinan bahwa Allah itu dekat. Jadi shaum ramadhan itu tidak hanya menahan haus dan lapar saja. Bahkan Rasulullah SAW pernah berkata “berapa banyak orang yg berpuasa tapi tidak mendapatkan apa-apa melainkan hanya lapar dan dahaga saja. [HR. Ath Thobroniy]. Sejatinya melalui rangkaian ibadah Ramadhan ini kita harus merasa dekat dengan allah. Merasakan bahwa Allah selalu melihat dan tidak pernah lalai.

    Menurut beliau, Shaum adalah proses ibadah yang berbeda. Kalo kita bandingkan dengan sholat, paling lama membutuhkan 15 menit, Umrah bisa kita kerjakan sekitar 5 jam.Untuk haji dilakukan selama 6 hari. Sementara shaum kita kerjakan selama 1 bulan penuh, selama kurang lebih 14 jam setiap harinya. Kemudian menurut beliau orang yang sukses menjalankan shaum ramadhan ciri-cirinya adalah:

    1. Merasa semakin yakin akan keberadaan Allah.
    2. Semakin hati-hati dalam sikap dan perilakunya untuk tidak syirik.

    Syrik artinya menduakan allah. Saat ini secara tidak sadar kita seringkali mendekati syirik. Contohnya sebelum ramadhan di beberapa daerah ada ritual keramasan, padusan, balimau dll. Ritual seperti ini biasanya dilakukan dengan mandi di sungai untuk membersihkan diri. Karena dipercaya air ini bisa membersihkan kita, dan menggugurkan dosa. Mirip seperti kepercayaan orang hindu di bali. Dan mirip juga dengan kepercayaan di India dimana orang mandi di sungai gangga untuk membersihkan diri. Menurut kepercayaan disana Sungai Gangga adalah titisan dari seorang Dewi cantik. Bahkan ada juga di beberapa daerah kebiasaan seperti memandikan keris. Nah untuk itu kita harus bersikap hati-hati terhadap syirik.

    Keutamaan Shaum

    Bahasan berikutnya adalah tentang keutamaan Shaum. Di bulan ramadhan ini seringkali kita membaca tulisan tentang manfaat shaum bagi kesehatan, dll. Bahkan sering juga disampaikan hadits yang mengatakan “shaumu tashifu” – “berpuasalah maka kamu akan sehat”. Menurut beliau sebenarnya hadits ini dhaif. Namun memang ada banyak sekali keutamaan dan manfaat dari shaum. Tapi Hikmah Utama dari shaum adalah meningkatnya ketaatan kita pada allah, ketaatan pada syariat islam.

    Syariat Islam adalah ajaran yang sempurna.

    “… Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagimu …” [Al-Maidah: 3]

    Islam tidak hanya mengajarkan tentang ibadah saja, tapi juga tentang adab dengan sesama manusia, tentang cara berpakaian, tentang politik bahkan muamalat dll. Maka ketaatan kita pada semua aspek. “Udkhulu fissilmi kaffah” [Q.S  Al-Baqarah 208] yang artinya “Masuklah kedalam Islam secara menyeluruh”

    Nah menurut beliau pada ayat Al-Baqarah 188, yang merupakan penutup rangkaian ayat tentang shaum, diberi penekanan tentang ketaatan pada urusan ekonomi.Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.”

    Diperkuat juga dengan hadis berikut: Sesungguhnya setiap umat memiliki fitnah, dan fitnah bagi umatku adalah harta.” (HR. Tirmidzi)

    Ketaatan urusan Ekonomi

    Dan menurut [Q.S Ali Imran-14]-Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang.

    Menurut ayat diatas ada 7 perhiasan manusia, yaitu:

    1. kecenderungan pada lawan jenis
    2. Kecintaan pada anak

    sementara 5 yang berikutnya adalah tentang harta. Manusia memang senang mengoleksi emas, perak, kuda. binatang ternak dan rumah. Namun bukan berarti umat muslim tidak boleh mencari rezeki. Malah kita harus mencari rezeki. Yang harus diperhatikan adalah harus sesuai dengan ketentuan ajaran agama. Harus diperoleh dengan cara yang halal, dan digunakan dengan cara yang benar.

    Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba” [Q.S Al Baqarah:275]. Dalam Islam tidak dikenal riba. Untuk pinjam meminjam uang, konteksnya adalah bantuan, jadi tidak mengharapkan tambahan. Namun dalam Islam ada bentuk kerjasama atau investasi dikenal aturan mudorabah serta murobahah.

    Selamat menjalankan Shaum!

    Kisah Sahabat Sya’ban

    Jumatan kemaren, penceramahnya menceritakan kisah yang cukup menarik. Tentang seorang sahabat Rasulullah SAW yang namanya Sya’ban ra. Saya coba share kisahnya disini. Sya’ban memiliki kebiasaan unik. Dia selalu datang ke masjid untuk sholat shubuh sebelum waktu shalat berjamaah. Dan beliau selalu mengambil posisi duduk di pojok masjid (kalo di mesjid kami istilahnya penyerang sayap). Jadi dia selalu mengambil posisi di pojok , supaya tidak mengganggu atau menghalangi orang lain.

    Pada suatu hari, saat shalat Subuh berjamaah akan dimulai, Rasulullah SAW heran karena tidak melihat Sya’ban ra. Rasul pun bertanya kepada jamaah, apakah ada yang melihat Sya’ban? Tapi, tidak seorang pun yang melihat Sya’ban ra.

    Shalat Subuh pun sengaja ditunda sejenak, untuk menunggu kehadiran Sya’ban. Namun Sya’ban tidak datang juga. Karena takut shalat Subuh kesiangan, Rasulullah pun memutuskan untuk melaksanakan shalat Subuh berjamaah. Nah, hingga shalat Subuh selesai pun Sya’ban belum datang juga.

    Selesai shalat Subuh Rasul pun bertanya lagi “Apakah ada yang tahu kabar Sya’ban?” Namun tidak ada seorang pun yang menjawab.

    Rasul pun bertanya lagi “Apa ada yang tahu dimana rumah Sya’ban?” Seorang sahabat mengangkat tangan dan mengatakan bahwa dia tahu dimana rumah Sya’ban.

    Rasulullah meminta diantarkan ke rumah Sya’ban.  Perjalanan dari masjid ke rumah Sya’ban cukup jauh dan memakan waktu lama  dengan berjalan kaki.

    Akhirnya, Rasulullah dan para sahabat sampai di rumah Sya’ban pada waktu shalat dhuha (kira-kira 3 jam perjalanan jalan kaki). Sampai di depan rumah Sya’ban, beliau mengucapkan salam dan keluarlah wanita sambil membalas salam.

    “Benarkah ini rumah Sya’ban?” Tanya Rasulullah.

    “Ya benar, ini rumah Sya’ban. Saya istrinya.” jawab wanita tersebut.

    “Bolekah kami menemui Sya’ban ra?” ucap Rasul.

    Dengan berlinangan air mata, istri Sya’ban ra menjawab “Beliau telah meninggal tadi pagi”.

    “Innalilahi Wainnailaihiroji’un” jawab semuanya.

    Ternyata satu-satunya penyebab Sya’ban tidak hadir shalat Subuh di masjid adalah karena ajal menjemputnya.

    Beberapa saat kemudian, istri Sya’ban ra bertanya “Ya Rasulullah ada sesuatu yang jadi tanda tanya bagi kami semua, yaitu menjelang kematiannya dia berteriak tiga kali. Kami semua tidak paham apa maksudnya”

    “Apa saja kalimat yang diucapkannya?” tanya Rasulullah.

    “Di teriakan pertama, dia berucap kalimat ‘Aduh, kenapa tidak lebih jauh,

    Kemudian pada teriakan kedua dia berkata,”aduh kenapa tidak yang baru,

    dan terakhir dia berteriak, aduh kenapa tidak semua,” jawab istri Sya’ban.

    Rasulullah SAW pun melantunkan ayat yang terdapat surah Qaaf ayat 22: “Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan dari padamu hijab (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam”

    “Saat Sya’ban ra dalam keadaan sakaratul maut, perjalanan hidupnya ditayangkan ulang oleh Allah SWT. Bukan hanya itu, semua ganjaran dari perbuatannya diperlihatkan oleh Allah. Apa yang dilihat oleh Sya’ban ra (dan orang yang sakaratul maut) tidak bisa disaksikan yang lain.

    Pada waktu syakaratul maut Sya’ban ra melihat suatu adegan ketika dia pergi pulang ke masjid untuk shalat berjamah lima waktu. Perjalanan sekitar tiga jam jalan kaki. Dalam tayangan itu pula Sya’ban ra diperlihatkan pahala yang diperolehnya dari langkah-langkahnya ke masjid,” ujar Rasulullah.

    Dia melihat seperti apa bentuk surga yang dijanjikan sebagai ganjarannya. Saat dia melihat dia berucap “Aduh mengapa tidak lebih jauh” timbul penyesalan dalam diri Sya’ban ra, mengapa rumahnya tidak lebih jauh lagi supaya pahala yang didapatkan lebih indah.

    Dalam penggalan kalimat berikutnya Sya’ban ra melihat saat ia akan berangkat sholat berjamaah di musim dingin.Saat ia membuka pintu, berhembuslah angin yang sangat dingin. Dia masuk ke dalam rumahnya dan mengambil satu baju lagi supaya tidak kedinginan. Dia memakai dua baju, Sya’ban memakai pakaian yang bagus di dalam dan yang jelek di luar.

    Dia berpikir jika kena debu tentu yang kena hanyalah baju yang luar dan sampai di masjid dia bisa membuka baju luar dan shalat dengan baju yang lebih bagus. Ketika dalam perjalanan menuju masjid dia menemukan seseorang yang terbaring yang kedinginan dalam kondisi mengenaskan. Sya’ban pun iba dan segera membukakan baju yang paling luar lalu dipakaikan kepada orang tersebut kemudian dia memapahnya ke masjid agar dapat melakukan shalat Subuh bersama-sama.

    Orang itupun selamat dari mati kedinginan dan bahkan sempat melakukan shalat berjamaah. Sya’ban ra pun kemudian melihat indahnya surga yang sebagai balasan memakaikan baju bututnya kepada orang tersebut. Kemudian dia berteriak lagi “Aduh!! Kenapa tidak yang baru” timbul lagi penyesalan dibenak Sya’ban ra. Jika dengan baju butut saja bisa mengantarkannya mendapat pahala besar, sudah tentu dia akan mendapatkan yang lebih besar jika dia memberikan pakaian yang baru.

    Berikutnya, Sya’ban ra melihat lagi suatu adegan. Saat dia hendak sarapan dengan roti yang dimakan dengan cara mencelupkan dulu ke dalam segelas susu. Ketika baru saja ingin memulai sarapan, muncullah pengemis di depan pintu yang meminta sedikit roti karena sudah tiga hari perutnya tidak diisi makanan. Melihat hal itu, Sya’ban ra merasa iba. Ia kemudian membagi dua roti tersebut dengan ukuran sama besar dan membagi dua susu ke dalam gelas dengan ukuran yang sama rata, kemudian mereka makan bersama-sama. Allah SWT kemudian memperlihatkan Sya’ban ra dengan surga yang indah.

    Ketika melihat itupun Sya’ban ra teriak lagi “ Aduh kenapa tidak semua!!” Sya’ban ra kembali menyesal. Seandainya dia memberikan semua roti itu kepada pengemis  tersebut, pasti dia akan mendapat surga yang lebih indah. Masya Allah, Sya’ban bukan menyesali perbuatanya melainkan menyesali mengapa tidak optimal.

    Subhanallah, semoga jadi inspirasi

    disadur dari:

    http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/16/12/24/oio4lo396-sahabat-rasul-syaban-ra-yang-menyesal-saat-sakaratul-maut

    Ceramah Ramadhan Arcandra Thahar

    Bulan Ramadhan biasanya saya sempatkan untuk taraweh keliling. Tadi malam, malam ke 16 ramadhan saya sholat di Mesjid Salman. Ternyata yang memberi ceramah malam itu adalah Arcandra Thahar. Beliau adalah wakil menteri SDM baru, yang sempat ramai di media karena memiliki kewarganegaraan ganda. Karena saya dapat posisi tidak jauh dari podium, saya cukup dapat melihat jelas beliau.  Kesan pertama saya, beliau sangat berbeda dengan yang sosok yang saya banyangkan saya dari pemberitaan di media. Beliau terlihat sederhana, menggunakan baju taqwa putih menggunakan peci hitam, sementara perawakannya kecil dan kurus. Wajahnya murah senyum dan meneduhkan. Berikut adalah rangkuman ceramah ramadhan arcandra thahar yang sempat saya catat.

    Mencari arah kiblat

    Beliau bercerita bahwa dia sangat senang bisa kembali ke mesjid salman. Beliau adalah alumni ITB, terakhir kali beliau sholat di salman adalah tahun 1994. Kemudian tahun 1995 dia mendapat kesempatan melanjutkan studi ke USA. Beliau bercerita pertama kali sampai di Chicago Amerika, ketika ingin sholat beliau kebingungan mencari arah kiblat. Karena tidak punya kompas, dia mencoba menanyakan arah kiblat kepada petugas yang ada di penginapan. Kemudian beliau bertanya,

    ” Mom I want to pray, where is direction to pray?”

    Petugasnya bingung dan menjawab,

    ” Sir if you want to pray you dont need direction”.

    Akhirnya dia menggira bahwa arah kiblat adalah ke arah barat. Karena kalo liat di peta mekah itu berada di sebelah barat dari USA. Kemudian dia menanyakan arah barat kepada petugas yang ada di penginapan, dan sholat.  Namun ternyata 3 hari kemudian temannya memberitahukan bahwa arah kiblat di USA adalah ke arah timur, sekitar 45 derajat ke utara.

    Dari pengalaman ini beliau teringat dialog malaikat dengan Allah dalam surat Al Baqarah (QS. 2:32) . Allah menanyakan nama benda-benda kepada malaikat. Kemudian malaikat menjawab

    Maha Suci Engkau Ya Allah,  tidak ilmu bagiku kecuali apa yg engkau ajarkan. Sesungguhnya engkau maha mengetahui dan maha bijaksana

    Ini adalah adab berilmu. Kecuali Allah mengajarkan ilmu pada kita maka kita tidak tahu apa-apa. Ilmu tanpa agama maka kita akan menjadi orang yang sombong.  Agama tanpa ilmu (seperti menentukan arah kiblat sendiri) membawa pada kesesatan. Untuk itu tuntutlah ilmu.

    Shaum di USA

    Pengalaman kedua beliau adalah tentang berpuasa di Amerika. Kalau winter shaum itu cepat dari pukul 5.30 pagi buka pukul 5.30 sore. Pada musim panas lebih panjang, dari jam 4.30 buka jam 8.30 malam. Kemudian di tempat kerja dia ditanya koleganya tentang puasa. Apa itu ramadhan? Kenapa kamu gak makan siang? I am fasting. Ternyata pengertian temannya tentang fasting itu berbeda dengan shaum. Oh anda fasting, berarti boleh minum ya? tidak saya tidak minum. Kok sengsara bener ya kamu kata temannya.

    Kemudian jam kerja disana adalah 40 jam seminggu. Tapi jam masuknya bebas. Jadi atasannya menyarankan begini, “selama puasa saya membolehkan anda masuk kerja jam 8.30 malam pulang jam 5 pagi”

    Karena dia yakin saya tidak mampu kerja saat perutnya lapar. Nah inilah tantangan kita sebagai muslim untuk membuktikan bahwa walaupun puasa kita tetap produktif. Jadi perintah puasa bukan punishment.Menurut Quran dengan puasa, kamu mungkin mencapai derajat taqwa.

    Beliau menjawab fasting is about mindset. Merasa lapar itu hanya pikiran, tapi fisik insyaAllah masih bisa bekerja.

    Suatu saat beliau ditanya kenapa gak makan babi. Dulu di kampung orangtuanya menjelaskan babi itu mengandung cacing pita. Cuman pasti tidak masuk akal bagi temannya disana. Akhirnya dia mengatakan ini adalah perintah tuhanku, yang mengatakan bahwa babi itu haram. Sami’na wa ato’na

    Ahlak orang USA

    Kemudian beliau cerita tentang pengalamandi kantornya. Ternyata disana jam kerja itu tidak dikontrol. Tidak pake fingerprint, dll. Namun walaupun disana tidak mengenal konsep malaikat, tapi mereka sangat taat dengan jam kerja tersebut. Satu saat hari sabtu ada temannya yang kerja? kemudian beliau bertanya kepada temannya ,”kenapa kamu hari sabtu masuk”. Temannya  menjawab, “kan saya harus kerja 40 jam, kemaren saya mengantar anak saya, habis 4 jam. Nah 4 jam ini harus saya ganti di hari sabtu”. Inilah akhlaq mereka yang harus kita pelajari. Padahal mereka tidak percaya konsep tuhan.

    Suatu saat beliau bertanya ke temannya apa agamamu. Dia menjawab saya agnostik. Apa itu agnostik? apakah Atheis? bukan. Atheis itu tidak percaya adanya tuhan. Agnostik itu dia merasa belum ada bukti bahwa tuhan itu ada, dan juga belum ada bukti bahwa tuhan itu tidak ada.

    Kemudian di kantor disediakan peralatan logistik, ada sebuah ruangan dimana disediakan perlengkapan seperti pulpen, baju dll. Namun ternyata mereka hanya mengambil perlengkapan tersebut sesuai dengan yang mereka butuhkan. Jadi tidak terpikirkan untuk mengambil pulpen tersebut untuk anaknya misalnya. Jadi mereka tidak mau mengambil barang yang bukan hak, ternyata mereka memiliki akhlak yang lebih baik daripada kita.

    Padahal dulu beliau mengira orang Amerika itu jahat, seperti di film Rambo. Namun ternyata beliau keliru. Jadi belajarlah dari sumber yang benar. Jangan belajar dari sumber yang tidak benar. Ingatlah kita hanya bisa mencari kebenaran, namun kebenaran yang mutlak adalah dari Allah SWT.

    Di akhir ceramah dia mengingatkan bahwa kita adalah manusia yang selalu salah. Untuk itu harus saling menasihati. Watawa saubilhaq, itu maknanya saling menasihati yaitu dua arah. Hati dalam bahasa arab adalah qalbu. Qalbu itu seperti flip flop, selalu berubah-ubah. Adakalanya cenderung kepada kebaikan, ada kalanya berbalik cenderung pada kejahatan.

    Semoga bermanfaat!

    Ceramah ramadhan arcandra thahar versi lengkapnya bisa dilihat pada link berikut: