Berkunjung ke Istana Maimun

Weekend lalu saya mendapat kesempatan berkunjung ke kota Medan. Konon belum sah kita ke medan kalau belum berkunjung ke Istana Maimun. Kami mendarat di Bandara Kuala Namu. Bandara ini bagus, dan terlihat modern. Namun bandara ini terletak sekitar 26 km dari kota Medan. Untuk menuju kota Medan, kami menggunakan kereta api Airport Railink Service. Dari Bandara menuju stasiun kereta cukup dekat, tinggal nyebrang jalan saja. Harga Tiket saat itu Rp 100.000,-

Kereta bandara ini juga cukup nyaman, untuk sampai ke stasiun medan diperlukan waktu sekitar 40 menit. Menurut petugas kereta, disana saat ini sedang dibangun jalur kereta tambahan, supaya kereta tidak perlu menunggu giliran. Sampai di stasiun medan kemudian kami dibawa ke tempat makan Simpang Tiga. Setelah makan, baru berkunjung ke istana maimun.

Istana Maimun

Istana Maimun ini adalah istana kesultanan Deli. Istana ini dibangun oleh Sultan Ma’mun Al Rasyid pada tahun 1880an. Istana ini terlihat cantik, namun agak kurang terawat. Masuk ke Istana Maimun karcisnya Rp 5 ribu.  Di bagian luar istana terdapat bangunan kecil. Bangunan ini berisi sisa sebuah meriam. Petugas penjaga meriam tersebut sempat menceritakan legenda tentang meriam tersebut

Legenda Putri Hijau

Jadi jaman dulu di kesultanan Deli ada seorang putri yang sangat jelita. Putri ini namanya putri hijau. Dia adalah putri sultan deli saat itu. Karena kecantikannya konon putri ini terlihat seperti memancarkan cahaya hijau sampai ke langit. Pangeran dari Aceh yang melihat pancaran sinar hijau di langit kemudian mencoba mencari sumber cahaya ini. Sehingga sampailah dia ke Deli. Pangeran kemudian mencoba melamar sang Putri Hijau. Namun lamarannya ditolak, sehingga terjadilah perang antara kerajaan Aceh dan Deli. Kerajaan Aceh berhasil menculik Putri Hijau dan membawanya ke Aceh. Kakak sang Putri Hijau yang bernama Mambang … (maafkan saya lupa nama lengkapnya) kemudian berubah menjadi meriam. Meriam ini berusaha mempertahankan kesultanan deli dengan menembakan peluru secara terus menerus. Hingga saking panasnya, meriam ini pun patah menjadi 2 bagian. 1 bagian ini yang disebut meriam puntung yang berada di Istana Maimun ini.

Di dalam istana sendiri ada beberapa ruangan. Ruangan utama disebut Balairung. Ruangan ini masih digunakan oleh keluarga kerajaan untuk melakukan acara adat. Bahkan seringkali mereka mengadakan pengajian di ruangan tersebut.

Sultan Deli

Petugas yang menjaga Istana ini bercerita saat ini Sultan Deli masih eksis. Hanya saja tidak lagi memiliki wilayah kekuasaan. Menurut beliau Sultan Deli XIV saat ini masih muda, dan sedang kuliah di Semarang. Sementara Sultan sebelumnya (Sultan Deli XII) mengabdikan dirinya di TN. Beliau sempat bertugas membantu korban bencana Tsunami di Aceh. Saat itu pesawat yang beliau tumpangin mengalami kecelakaan, dan beliau wafat.

Kerajaan Deli ini dulunya kerajaan yang kaya, karena wilayah kekuasaannya memiliki ladang tembakau dan berbagai perkebunan.

Di istana maimun ini terdapat banyak tempat penyewaan baju adat, jadi kita bisa berfoto bergaya bak raja dan ratu melayu di Singgasana. Biaya sewanya tidak terlalu mahal sekitar Rp 30 ribu.  Di Istana ini kita bisa melihat banyak ornamen yang indah, mulai dari keramik lantai, lukisan di atap-atap dll. Kursi meja, lemari, jendela bahkan ornamen lampunya juga terlihat indah. Di ruangan lainnya kita bisa melihat koleksi senjata kesultanan Deli. Kemudian juga ada ruangan yang menampilkan sejarah Kesultanan Deli mulai dari Sultan pertama sampai yang terakhir.

Istana yang tidak besar, namun cukup indah. Ada perpaduan gaya eropa, islam dan deli pada Istana ini.  Hanya saja kurang terawat, sehingga terlihat berdebu. Baiklah demikian cerita kunjungan ke istana maimun.  Selanjutnya kami lanjutkan perjalanan menuju Berastagi. Insyaallah akan saya share pada tulisan berikutnya.

Semoga Bermanfaat!

https://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Deli

Silahkan tuliskan tanggapan, kritik maupun saran