Kopi Luwak Cikole

Seorang teman dari luar meminta tolong saya untuk membelikan Kopi Luwak. Menurut dia Kopi Luwak dari Bandung itu enak sekali. Ketika saya tanya belinya dimana, dia bilang loh harusnya kamu orang Bandung lebih tau dari saya. Jadi malu deh 🙂 , Karena saya bukan penggemar kopi jadi bingung juga. Setelah tanya sana-sini dan browsing sana-sini ada beberapa tempat yang direkomendasikan. Ada yang merekomendasikan toko kopi di Jl.pajajaran, kopi aroma di Banceuy, penangkaran di Kopi Luwak Cikole dan satu lagi di Pangalengan.

Beberapa teman sempat kasih nasehat supaya hati-hati dalam memilih kopi, karena banyak yang dicampur alias tidak murni kopi. Akhirnya setelah bangun tidur, saya putuskan datang langsung ke Kopi Luwak Cikole (KLC).

Lokasi

KLC ini letaknya di Cikole Lembang. Kalau dari Bandung, kita ikuti jalan menuju Tangkuban Perahu. Setelah melewati kota Lembang belok kiri ke arah Tangkuban Perahu / Subang. Ikuti saja jalan tersebut sampai melewati Balai Penelitian Tanaman Sayuran. Kemudian ada perempatan kecil Jl.Cibedug belok kiri. Di perempatan itu ada baliho besar Kopi Luwak Cikole. Jalannya kecil dan agak berlubang. Ada pangkalan ojek juga.

Kemudian sekitar 600 meter ada simpang tiga belok kanan Jl Nyalindung.  Gak jauh dari situ kita bisa temukan KLC di sebelah kanan. Tampak muka agak kurang meyakinkan karena hanya terlihat seperti rumah biasa di pengkolan jalan. Hanya ada spanduk tulisan Kopi Luwak. Tempat parkiran juga kecil hanya bisa untuk 2 mobil.

Penangkaran

Saya disambut dengan cukup ramah oleh petugas disana, dan langsung dikenalkan ke seorang edukator (guide). Edukator ini yang bercerita banyak tentang proses pembuatan kopi luwak. Menurut cerita dia, tempat ini milik seorang dokter Hewan bernama Sugeng. Disana saat ini ada 120 musang yang dipelihara. Awalnya mereka menangkap 2 musang dari hutan kemudian diteliti dulu selama 1 tahun. Dipelajari bagaimana perilaku musang ini, sampai akhirnya mereka menemukan cara yang baik untuk penangkaran musang ini.

Musang disana dipelihara dengan baik, diberi makanan yang bergizi. Ada pisang, susu, pepaya, telor, madu dan daging ayam. Diperhatikan juga kesehatannya, ada diberi obat cacing dll. Kebersihan kandang, dan temperaturnya juga diperhatikan. Jangan-jangan musang-musang ini lebih sehat daripada saya. Proses produksinya kurang lebih seperti ini:

  1. Feeding

Musang yang umurnya melebihi 1 tahun baru diperbolehkan diberi makan biji kopi. Biji kopi yang diberikan telah dipilih terlebih dahulu oleh para peternak. Biji kopi Arabica diberikan hanya 2x dalam seminggu. Tidak semua biji kopi yang disediakan ini dimakan oleh musang, jadi dipilih juga. Kemudian biji kopi ini setelah ditelan dikeluarkan lagi oleh musang. Yang saya liat bijinya masih bulat, hanya dimakan kulit dari biji kopinya saja yang merah.

2. Pencucian dan pengeringan

Setelah itu dicuci,  dan dikeringkan  selama 2 minggu. Menurut edukator biji kopi ini ternyata ada 2 macam, ada yang jantan dan betina. Maksudnya ada yang berkeping satu dan berkeping dua. Yang berkeping satu memiliki aroma yang lebih kuat. Sehingga harganya lebih mahal.

3. Peeling

Kemudian dilakukan proses pengupasan kulit dari biji kopi tadi. Pengupasannya digiling secara manual. Kemudian dipisahkan biji yang bagus dan kurang bagus.

4. Roasting

Setelah itu baru masuk ke proses roasting, Grinding dan pengujian. Dan terakhir dikemas dalam kemasan yang menarik.

Harga

Disana kita bisa beli kopi ada dua macam, yang original ada tersedia dalam kemasan 10 sachet (Rp 350.000) dan 15 scahet (Rp 500.000). Versi original ini berasal dari biji kopi luwak yang berkeping dua, yang ditambahakan dengan sedikit dari yang berkeping satu (untuk memperkuat aromanya). Sementara versi lainnya adalah versi herbal, ini berasal dari kopi yang berkeping satu. Karena lebih sedikit, kopi ini dicampur dengan ekstrak herbal seperti ginseng dll. Harganya saya lupa 🙂 yang jelas lebih mahal. Selain itu kita bisa beli yang masih dalam bentuk biji kopi. Untuk yang original 500gr harganya 500 ribu. Kita bisa juga membeli satu sachet seharga 50 ribu. Versi kopi luwak paling mahal mereka jual 3 jt/kg.

Menurut edukatornya, bubuk kopi ini bisa digunakan 3x. Jadi setelah diminum jangan langsung dibuang, masih bisa digunakan lagi. Setelah berusia 8 tahun musang ini dilepas kembali ke hutan, katanya untuk menjaga populasi musang di habitatnya.

Dari berbagai jenis musang di Indonesia hanya 2 jenis musang yang dapat menghasilkan biji kopi luwak. Beberapa jenis musang di Indonesia seperti Binturung sudah termasuk binatang langka. Musang ini termasuk binatang yang aktif di waktu malam (nokturnal). Ternyata tempat ini sudah berdiri 6 tahun 🙂 dan menurut mereka lebih banyak dikunjungi oleh para bule dibandingkan para turis lokal. Sangat menarik kunjungan ke tempat ini. Karena banyak pengetahuan baru yang saya peroleh.

Informasi tentang tempat ini bisa dilihat di web ini . Lokasinya menurut GPS di -6.7985996,107.645552, atau bisa dilihat di link maps disini.

Semoga Bermanfaat!

 

2 thoughts on “Kopi Luwak Cikole

Silahkan tuliskan tanggapan, kritik maupun saran