Berpuasa 18 Jam

Alhamdulillah kita dipertemukan lagi dengan bulan Ramadhan. Bulan yang penuh berkah. Pagi ini saya baca beberapa tulisan tentang betapa beratnya berpuasa di Eropa. Di berita tersebut dicantumkan di Denmark umat muslim harus berpuasa 18 jam. Memang saat ini (bulan Juni) di belahan bumi sebelah utara sedang mengalami musim panas. Sementara itu di belahan bumi sebelah selatan sedang mengalami musim dingin. Nah pada saat musim panas, disana matahari muncul lebih cepat (sekitar jam 4-5 pagi) dan terbenam lebih lambat dibandingkan di negara kita (sekitar jam 9 malam). Sementara itu waktu subuh biasanya sekitar jam 2-3 pagi.  Jadi puasa disana ketika musim panas memang sangat panjang banget sekitar 18 jam.

Bandingkan dengan di Indonesia yang tidak mengalami 4 musim, waktu terbit matahari dan waktu terbenamnya hampir selalu konstan, terbit sekitar jam 6 pagi, terbenam sekitar jam 6 sore. Waktu subuh pun hanya bergeser dari jam 4-5 pagi. Jadi paling lama kita puasa berkisar 13-14 jam.

Alhamdulillah saya sempat merasakan berpuasa 18 jam ini. Memang puasa 18 jam bagi kita kedengarannya sangat ekstrem. Tapi yang pernah saya rasakan sebenarnya tidak terlalu jauh berbeda dengan di tanah air. Karena musim panas disana berbeda dengan musim kemarau di tanah air. Di Jerman musim panas biasanya temperatur berkisar antara 25-30 derajat celcius. Tentunya jauh berbeda dengan cuaca musim kemarau di Indonesia. Selain itu disana tingkat kelembapan udara tidak seperti disini. Disana kita tidak banyak berkeringat. Karena tingkat kelembapan udara disana tidak terlalu tinggi. Makanya orang sana pada males mandi 🙂

Alhamdulillah kalau dari sisi cuaca sebenarnya puasa di musim panas tidak jadi kendala. Yang agak jadi masalah justru waktu tidur. Karena biasanya kalo magrib jam 9, maka waktu isya baru sekitar jam 10. Dilanjut taraweh bisa sampai jam 11-12. Kemudian jam 2 sudah harus bangun lagi untuk sahur. Disinilah tantangannya, kurang tidur. Yah akhirnya mau gak mau habis subuh dipaksakan istirahat sebentar.

Karena waktu itu aktifitas saya sangat banyak di kampus, jadi gak terlalu kerasa puasa sampe 18 jam. Mungkin karena tidak terlalu banyak aktifitas fisik.  Malah jadi lebih fokus, karena gak harus pusing cari makan. Maklumlah nyari makanan yang halal disana gak gampang. Yang jelas yang saya rasakan puasa di negeri orang cukup nikmat, Alhamdulillah. Mungkin karena disana kaum muslim tidak banyak, sehingga persaudaraan antara kami disana cukup kuat. Jadi setiap Ramadhan selalu saja banyak aktifitas di mesjid. Mulai dari sahur bareng, buka puasa bareng, taraweh bareng bahkan terkadang kami sering juga olahraga bareng (futsa) sebelum buka puasa. Mungkin saya hanya beruntung berada di kota yang komunitas muslimnya cukup kompak. Jadi sebenarnya tidak se-horor yang kita bayangkan kok berpuasa 18 jam. Silahkan kalau anda mau mencoba.

Selamat Berpuasa! Semoga kita selangkah lebih dekat menggapai gelar Taqwa!

Silahkan tuliskan tanggapan, kritik maupun saran

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.