Kajian Iedul Adha Salim Fillah

Kemaren kampus ngadain kajian iedul adha, ngundang ustadz Salim Fillah sebagai pembicaranya. Berikut ini beberapa catatan saya dari kajian beliau.

10 hari di awal bulan dzulhijah adalah puncak dari bulan haram. Ada 4 bulan haram dalam kalender hijriah yaitu Zulqaidah, Zulhijjah, Muharram dan rajab. Tidak ada amalan yang lebih dicintai Allah daripada amalan pada 10 hari ini. Menurut ustadz Salim, amalan itu ada beberapa tingkatan, diterima, diridhai, dan yang tertinggi dicintai.

Amalan pada 10 hari dzulhijjah ini lebih dicintai Allah bahkan daripada jihad, kecuali orang yang keluar rumah untuk berjihad dengan membawa dirinya dan seluruh hartanya, kemudian tidak ada yang kembali. Pada 10 hari ini kita dianjurkan memperbanyak takbir, tahlil, tasbih,sholawat, puasa dengan puncaknya adalah shaum arafah tanggal 9 dan berkurban 10 zulhijah.

Keutamaan puasa arafah, bisa menghapus 1 tahun yang lalu dan setahun yang akan datang (HR. Muslim no. 1162). Pada saat puasa arafah ini dianjurkan untuk bertaubat nasuha, banyak istighfar, bertakbir dan bertahmid.

Pada tanggal 10 kita dianjurkan berpuasa dulu, dan baru makan setelah sholat iedul adha. Berbeda dengan Iedul fitri yang disunahkan kita untuk makan dulu sebelum sholat ied.

Mengenai makna ibadah kurban, kita harus mempelajari kisah hidup Nabi Ibrahim , beliau adalah seorang imam yang patuh kepada Allah(Q.S AnNahl-120). Dari berbagai kisah orang shaleh di Quran, seringkali mereka diuji dengan sesuatu yang paling tinggi pada hatinya.

Contohnya Rasulullah yang mendapat julukan al-amin, dikenal karena kejujurannya, dan selalu dipercaya sejak usia muda. Setelah mendapat wahyu kenabian, beliau diuji dengan banyak orang kafir yang awalnya percaya dengan beliau, seketika setelah beliau berdakwah, menjadi tidak percaya kepada beliau.

Contoh lain adalah maryam, beliau mengabdikan dirinya kepada Allah SWT di Aqsa, sennatiasa beribadah dan menjaga kesucian dirinya. Namun beliau diuji dengan diberikan kehamilan, padahal tidak ada seorang laki-laki yang pernah menyentuhnya. Ujian paling berat akan diberikan pada apa yang paling dijunjung tinggi oleh hatinya.

Nabi Ibrahim adalah orang yang penuh cinta pd keluarganya. Bahkan ketika ayahnya menentang keimanannya, Ibrahim dengan penuh kelembutan berkata aku pasti akan memintakan ampunan pada tuhanku. Begitu juga ketika Ibrahim hijrak ke mesir bersama istrinya, dari Kanaan. Beliau di Mesir menghadapi cobaan ketika raja menginginkan istrinya. Namun Allah SWT melindungi Ibrahim dan Sarah. Bahkan sang raja memberi hadiah Hajr kepada Ibrahim. Menurut kisah Hajr adalah seorang budak. Sebelumnya Hajr adalah seorang putri raja yg kalah perang, dari raja kerajaan mesir hulu nil yaitu sekitar sudan. Dikalahkan oleh raja dari hilir sungai nil di daerah memphis.

Ketika Ibrahim sudah tua, namun Sarah tidak dapat memberikan keturunan, Sarah meminta ibrahim untuk menikah dengan Hajr. Ibrahim pun menikah dengan Hajar. Kemudian lahirlah anak dari Hajar yang diberi nama Ismail. Namun tidak lama kemudian, datang perintah dari Allah anaknya yg ditunggu2 disuruh ditinggalkan di lembah baqa. Sebuah lembah gersang, kosong, tidak ada orang dan tidak ada tanaman.

Ibrahim tidak mempertanyakan perintah ini. Karena keimanannya dibawanya hajar dan ismail yang masih bayi hijrah dari Kanaan ke Baqa (Mekah sekarang). Kemudian ditinggalkannya Hajar dan Ismail disana. Hajar mengejar Ibrahim dan bertanya, Kemana engkau pergi? mengapa engkau tinggalkan kami disini?  namun Ibrahim hanya bisa terdiam dan menundukan kepalanya dan terus berjalan meninggalkan mereka sambil berdoa kepada Allah, yang diabadaikan pada surat Ibrahim 37

RABBANA INNI ASKANTU MIN DZURRIYYATI BI WADIN GHAIRI DZI ZAR’IN INDA BAITIKAL MUHARRAM RABBANA LIYUQIMUSH SHALAH FAJ’AL AF-IDATAM MINANNASI TAHWI ILAIHIM WARZUQHUM MINATS TSAMARATI LA’ALLAHUM YASYKURUN.Wahai Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian anak keturunanku di sebuah lembah tandus yg tak ada tanamannya di dekat rumahMu yg mulia (Baitullah), ya Tuhan kami, yg demikian itu agar mereka melaksanakan shalat, maka jadikanlah hati2 manusia cenderung (mencintai) mereka dan berilah mereka rizki dari buah2an, semoga mereka bisa bersyukur. (Ibrahim, 37)

Setelah tiga kali hajar bertanya, Hajar kemudian bertanya kepada Ibrahim, apakah ini perintah Allah?

Ibrahim menjawab betul, kemudian Sarah berkata kalau ini perintah Allah, maka sekali2 Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan kami. Inilah iman yang sesungguhnya, mari kita renungkan perkataan Sarah ini. Segala perintah Allah pasti maslahat, tidak akan mudharat, Perkataan ini menenteramkan Nabi Ibrahim. Ini adalah contoh teladan dari keluarga Ibrahim keluarga pilihan yang memiliki ketaatan yang luar biasa.

Sampai disini dulu, insyaallah besok saya akan lanjutkan lagi catatan kajian iedul adha ustad salim. Semoga bermanfaat!

Silahkan tuliskan tanggapan, kritik maupun saran