Kajian Iedul adha Salim Fillah-2

Pada tulisan sebelumnya telah dibahas tentang kisah Ibrahim yang mendapat perintah untuk meninggalkan Hajar dan Ismail di kota Baqah. Dari kisah itu kita dapat mengambil hikmah bahwa melaksanakan perintah Allah pasti baik, menghindari larangan Allah juga pasti akan baik bagi kita.

Namun setelah ditinggal Ibrahim ke Kanaan, datang lagi ujian untuk Sarah. Sesungguhnya bagi kita sebagai orang muslim, ujian itu tidak pernah berhenti. Dunia adalah tempat kita menanam, panennya nanti kelak di akhirat.

Senang atau susah, semuanya adalah ujian. Bila kita mendapatkan kebaikan dari Allah, sebenarnya itu adalah ujian. Bila kita mendapat musibah, itu jelas adalah ujian. Bila kita mendapat nikmat, maka kita wajib bersyukur. Sementara bila kita mendapat musibah, kita harus bersabar. Ujian itu datang agar kita bisa naik kelas. Di dalam Quran dinyatakan, memangnya manusia mengira mereka akan dibiarkan berkata aku telah beriman, sedang mereka tidak diuji lagi? Al-ankabut:2

Sesungguhnya kami telah menguji orang-orang sebelum mereka maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan orang-orang yang dusta (Al Ankabut:3)

Setelah Ibrahim pergi ke Kanaan, lama kelamaan bekal air yang dimiliki Hajar habis. Ismail pun menangis karena haus, air susu ibunya pun kering. Sementara disana tidak ada mata air, tidak ada orang, tidak ada hewan dan tidak ada tanaman. Hajar berusaha naik ke bukit Shafa. Kemudian dari atas bukit dia berusaha mencari apakah ada mata air, orang, hewan, maupun tanaman. Sementara Ismail yang masih bayi terus menangis karena kehausan. Karena tidak menemukan apa-apa, kemudian dia turun dari bukit shafa dan berlari menuju bukit marwa. Diatas bukit marwa dia berusaha mencari apakah ada mata air, orang, hewan maupun tanaman. Namun tidak juga menemukan apa-apa, kemudian dia turun dan berlari menuju bukit shafa.

Hajar tidak menyerah dan terus berlari dari shafa dan marwa sampai 7 kali. Ditengah panas terik, tanah berbatu tajam, pasir yang licin, Hajar terus berusaha dan berdoa mencari air. Hingga kemudian Allah memerintahkan Jibil untuk datang dan menghantamkan sayapnya ke bawah kaki Ismail. Kemudian keluarlah air dari bawah kaki Ismail. Hajar turun dari marwa, dan mengumpulkan air tersebut yang sekarang kita kenal sebagai zamzam.

Demikianlah, keyakinan Hajar ditebus oleh Allah. Barang siapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka (Q.S At-thalaq 2-3)

Setelah ada air, mulailah datang kabilah jurhum dari Yaman untuk bermukim disana. Inilah yang menjadi cikal bakal kota mekah.

Kemudian Ibrahim diuji lagi, ketika Ismail sampai pada usia yang mampu membantu pekerjaan orang tuanya, datanglah perintah kurban. Perintahnya datang melalui mimpi, bahwa Ibrahim menyembelih Ismail.

Ibrahim kemudian memanggil Ismail dan mengajak berdiskusi. Ya bunayaa, perhatikan anaku tersayang, sesungguhnya aku melihat dalam mimpiku, coba kemukakan apa yang menjadi pendapatmu. Dialog ini diabadikan dalan surah Asshoffat 99-108. Nabi Ibrahim yakin dengan perintah Allah, melalui mimpinya, tapi dia tidak laksanakan dengan tergesa-gesa, memaksa dan menurutkan hawa nafsunya. Tapi dengan cinta.

Buya M.Natsir suatu ketika pernah ditanya tentang piagam jakarta. Bukankah melaksanakan perintah syariat Islam dalam kehidupan bernegara adalah sebuah kewajiban? Betul jawabnya. Lalu mengapa buya mengorbankan itu. Buya Natsir kemudian bertanya apakah nabi Ibrahim meyakini perintah menyembelih merupakan perintah Allah? Lantas kenapa Ibrahim mengajak Ismail berdiskusi? Demikian buya natsir menjawab, bahwa dia harus meyakinkan juga tokoh dari agama lain mengenai pencantuman kalimat syariat islam.

Kembali ke kisah Ismail, anak muda itu menjawab pertanyaan bapaknya dengan sangat indah. Dia menjawab, Ya ayahku laksanakanlah perintah itu, sesungguhnya engkau akan mendapatiku sebagai hamba yang sabar. Ibrahim pun membawa Ismail ke mina, ditengah jalan dia diganggu oleh setan. Setan berusaha merayu Ibrahim untuk berpaling dari perintah Allah. Namun Ibrahim tetap teguh, dan melempar setan dengan batu. Inilah yang diabadikan menjadi lempar jumrah pada saat haji. Sesampainya di mina, dibaringkan Ismail disana, Ismail berkata, tutuplah leherku ini dengan kain, agar tidak ada noda darah yang mengenai bajumu ayah. Nanti ibu akan sedih melihat noda darah itu.

Ketika Ibrahim akan melaksanakan perintah menyembelih Ismail, Allah ganti Ismail dengan seekor domba. Ada kisah yang menyebutkan bahwa domba yang disembelih Ibrahim adalah dombanya habil. Habil adalah putra Adam yang diminta untuk berkurban. Dia memilih domba yang paling gemuk. Sementara saudaranya Qabil memilih domba yang paling kurus. Kurban Habil diterima oleh Allah, dan dombanya diangkat.

Dari kisah ini dapat kita pelajari bahwa setelah ujian pasti ada hikmahnya. Tugas kita sebatas berusaha. Mari kita belajar ikhlas. Mari kita ambil teladan dari kisah Ibrahim dan Ismail. Semoga bermanfaat!

Silahkan tuliskan tanggapan, kritik maupun saran